DAY 7
Hanya tinggal segelintir orang yang ada di pesantren. Mayoritas
semuanya pulang ke rumah masing-masing. Tak ada suara obrolan di lorong teras
pesantren, tak ada suara piring akibat makan malam bersama. Yang ada
pintu-pintu kamar ditutup rapat dengan lampu yang mati di dalamnya. Kalau pun ada
yang terbuka, hanya berisi satu atau dua orang yang sedang sibuk bermain dengan
ponselnya. Suara kucing pun menjadi teman saat malam-malam itu.
Suasana itu terulang setiap dua minggu sekali, karena memang jadwal
perpulangan pesantren adalah dua minggu sekali. Dan kau tau? Aku paling benci
waktu perpulangan. Bukan bermaksud tak ingin mereka bahagia sebab bisa pulang.
Hanya saja diri tak kuasa menahan sendiri dan kesepian di pesantren.
Ditambah lagi ketika banyak yang bertanya, “Kau tak pulang
kampung?” Inginku berteriak keras di telinganya. Sudah tau rumahku cukup jauh
ditambah lagi sedang musim wabah, pasti lah tak bisa pulang dengan mudahnya.
Sabar, iya sabar. Tapi wajarkan jika tetap ingin memberontak? Tidak. Harusnya
bersikaplah dengan sewajarkan, tanpa memberikan balasan yang mungkin akan
menambah rumitnya keadaan. Sabar.
Memang benar, sendiri tak selamanya buruk atau pun terpuruk.
Terkadang sendiri juga menghadirkan dunia yang selama ini diharapkan. Tak ada
yang mengusik, tak ada yang menuntut, atau bahkan bisa berimaginasi bebas
layaknya sang imaginer. Tetapi sebisa apa pun menipis sepi, hati tak bisa
berbohong. Suasana ramai saja, hati bisa sepi. Apalagi jika suasan sepi, tentu
hati pun mudah sekali sepi.
Sendiri juga bisa menjadi waktu untuk memuncakkan tentang rindu.
Bertengkar dengan diri sendiri dan berusaha untuk mematahkannya. Ah!, rindu
sangatlah kejam. Menikam, memeras, bahkan membunuh diri dengan perlahan.
Harapanku, aku bisa tetap berteman dengan damai bersama rindu. Tanpa membenci
tempat atau pun waktu.
Aku pun sedang berusaha membulatkan tekadku kembali, perihal berani
merantau maka harus berani pula tak pulang dalam waktu yang lama. Bukan
terkesan durhaka, sebab tak sering menengok orang tua. Hanya saja untuk saat
ini biarlah doa yang menjadi jembatannya. Aku yakin, tak ada doa yang sampai
dipelukan Tuhan, kecuali dengan keyakinan mendalam dan sikap optimisnya. Semoga
Ibu, Bapak, dan keluarga besarku senantiasa baik-baik saja.
#DAY7
#ODOP
#OneDayOnePost
Komentar
Posting Komentar