Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2020

DAY 24

  Melupakan Hakikat Hidup Sering kali kita semangat dalam melangkah menuju realisasi harapan. Saking semangatnya, kita sampai berani melupakan siapa yang membukakan atas jalan ini. Kita dengan mudahnya mengatakan “Aku harus bisa menggapai segala harapanku”. Namun, di lain sisi kita susah untuk menyadari ada siapa di balik perjuangan ini. Sering kali kita kuat untuk berkeringat, menahan lelah, melawan ego untuk rebahan, dan berkawan dengan kerasnya tekad. Namun, apakah sekuat itu juga kita mempertahankan iman? Sekuat itu juga kita melawan malas mengerjakan amal harian? Sekuat itu juga kita melawan godaan setan untuk bermaksiat? Kapan ya kita semangat memperjuangkan iman layaknya memperjuangkan masa depan? Sering kali kita selalu mengedepankan urusan yang membuat kita bahagia. Sampai-sampai mengorbankan waktu dan tenaga untuk memperjuangkannya. Dan anehnya, kita jarang juga menyadari perihal bahagia yang kita perjuangkan benar-benar akan mendatangkan kemanfaatan atau tidak. Kar...

DAY 23

Pada Dasarnya Perempuan Itu? Pada dasarnya perempuan itu lemah dan lembut. Ia diciptakan dari tulang rusuk yang rawan sekali untuk bengkok. Ketika ia patah, ia akan akan susah untuk dikembalikan. Apalagi ketika ia remuk dan hancur, pupuslah sudah harapan untuk memperbaikinya. Ia juga lembut dalam bertindak, karena ia mengedepankan perasaan atas tindakannya. Pada dasarnya perempuan itu penyayang. Ia dianugerahkan untuk melindungi bayi mungil di rahim terbaiknya. Ia diciptakan untuk memberikan sejuta cinta kepada anaknya kelak. Bahkan saat ia sudah mempunyai lebih dari satu keturunan, ia tetap bijak dalam membagi cintanya. Dengan keseimbangan atas rasa perhatiannya. Pada dasarnya perempuan itu manusia kuat. Walaupun sering kali dipandang remeh bahkan dianggap tak mempunyai kemampuan dan menjadi manusia terbelakang. Namun nyatanya tidak, ia kuat dengan hati yang senantiasa kokoh untuk memperjuangkan hak dan kewajibannya. Ia kuat dengan keyakinan terhadap janji-jani Allah. Pada das...

DAY 22

  Tetap Bahagia Bahagia sekali anak muda itu, ia selalu terlihat bergairah dalam menjalani hidup. Ia selalu memancarkan senyum ke siapa saja yang bersamanya. Ia selalu menebar bahagia kapan pun dan di mana pun. Tak peduli seberapa berat masalah yang menimpanya. “Kenapa kamu selalu bahagia?” Tanya seorang teman pada teman itu. “Sebab, kenapa harus bersedih, jika ada Allah yang selalu memberikan sejuta bahagia tanpa disangka. Kenapa harus murung atas masalah yang menimpa, jika ada Allah yang Maha Mengatasi setiap permasalahan”. Benar sekali, tidak ada gunanya dan tidak ada untungnya jika kita selalu bersedih atas apa yang diterima. Sebab, kesedihan tidak akan menyelesaikan masalah. Walaupun sampai kita merengek pasrah, kesedihan tidak akan terurai kecuali dengan bahagia. Namun kenyataannya, dikit-dikit murung, dikit-dikit marah, dikit-dikit nangis. Ah! , aneh sekali manusia-manusia itu, iya aku. Mungkin bisa dibilang hanya satu banding 10 orang yang tetap memancarkan bahagia ...

DAY 21

  Menjadi Orang Tak Enakan Menjadi orang “Tak Enakan” itu susah ya. Mau ngomong apa takut salah mengucapkan. Mau melakukan apa, takut salah tindakan. Mau berjalan ke sana, takut salah arah. Bahkan dari hal terkecil seperti mau mikir apa aja, masih dipertimbangkan dengan berat. “Kalau aku mikir perihal itu, takutnya nanti jadi suudzon, takutnya malah jadi menerka-nerka”, batinku. Antara keberuntungan atau justru malah menjadi beban. Entahlah, yang jelas terkadang merasa tersiksa dengan sikap ini. Terkadang pula jika sedang sadar, diri merasa beruntung. Kenapa? Karena tentu tak enak rasanya jika harus berperang dengan diri sendiri sebelum melakukan sesuatu. Melawan anggapan negatif yang sebenarnya tak masalah jika selalu percaya. Lalu merasa beruntung karena memang ini anugerah dari Tuhan yang tak semua orang memilikinya. Ada di luar sana yang dengan bebasnya berbicara tanpa tau siapa yang diajak bicara. Tanpa tau watak dan suasana hatinya. Ada di luar sana yang dengan gayanya ...

DAY 20

  Perihal Melupakan Perihal melupakan, ketika aku membuka lembaran ini pun, aku kembali mengingatnya. Pada setiap halaman yang tak ada satu pun terlewatkan tentangnya. Pada setiap kata dengan goresan kenangan tak kasat mata. Pada keindahan diksi yang sama seperti indahnya. Pada rangkaian kalimat yang sempurna karenanya. Rupanya, melupakan tak semudah menciptakan lembaran. Perihal melupakan, ketika aku duduk di ruang itu, aku kembali mengingatnya. Pada setiap sudut ruangan yang pernah kita tempati bersama. Pada sofa dengan sajian cemilan di depannya. Pada tawa yang pernah lepas di sana. Pada suguhan ceritanya yang tak ada kata habis saat di sana. Parihal melupakan, ketika aku ingin pindah, bayangannya selalu menjadi objek untuk aku bergegas. Bahkan, mengikutiku tanpa tau ke mana kemauanku. Mungkin memang benar, semua tentangnya akan menjadi teman sejati kemana aku pergi. Atau bahkan hatiku yang masih terbuka untuk menyambutnya kembali? Entahlah. Perihal melupakan yang masih ...

DAY 19

  Bersyukur Yuk! Berulang kali kumenatap diriku sendiri di depan cermin. Tidak ada yang beda dari kemaren-kemaren. Dengan mata yang sembab akibat kebiasaan tidurku yang tak teratur.   “Bagaimana ini?”, tanyaku. Salah sendiri tentunya, belum bisa membedakan mana waktu untuk istirahat dan mana waktu untuk beraktivitas. Berulang kali kumenatap diriku sendiri di depan cermin. Aku sudah cantik rupanya, batinku. Walaupun jelas banyak kekurangan yang kupunya, tapi tetap aku cantik. Cantik dengan segala yang Tuhan berikan kepadaku. Berulang kali kumenatap diriku sendiri di depan cermin. Dengan tatapan kosong, entah apa yang dipikiranku. Membayangkan gambar yang ada di cermin itu bukan diriku, melainkan gambar orang lain yang menjadi objek keirianku. Ah! , tak boleh tentunya. Kutepis dengan cepat lalu kuganti dengan senyumku di layar cermin. Rupanya benar, aku cantik dengan diriku. Nah, sudah seberapa jauh kau meyakini bahwa dirimu cantik? Atau malah sampai sekarang masih melih...

ODOP CHALLENGE 3

Gambar
 Aku Telah Menemukan Duniaku Pada tengah-tengah keramaian dunia dengan berjuta orang, hiduplah seorang perempuan dengan segudang mimpinya. Ia terlahir pada deretan cerita sederhana namun penuh makna. Kota kecil di Jawa Tengah menjadi tanah pijakan pertamanya, Batang. Dalam naungan cinta dan dekapan kasih dari keluarga biasa. Ya, Namaku Trimo Wati. Panggil saja dengan sebutan “Imo”. Namamu sangatlah biasa dan bahkan dipandang sebagai nama kuno di desa-desa. Aku sempat mengelak dan protes perihal nama yang diberikan kepadaku. Pernah juga menjadi beban akibat menjadi tak percaya diri. Namun kusadar, hal itu justru akan membunuhku dan membutku patah semangat. Tentu, pemberian nama ini bukan tanpa maksud dan bukan tanpa arti.   Ada arti mendalam atas namaku yang kuno ini. Kata “Trimo” yang berarti orang yang menerima atau qana’ah. Sedangkan “Wati” berarti perempuan. Berharap atas namaku ini ada doa yang senantiasa dipanjatkan. Yaitu perempuan dengan sikap mudah menerima. Kini...

DAY 18

Hari Ke-18 Memasuki hari ke-18 aku mengikuti serangkaian kegiatan ODOP (One Day One Post). Tidak lepas dari semangat yang tekad sehingga aku masih bertahan sampai sekarang ini. Bukan juga menjadi kebanggaan jika nyatanya aku berhenti hanya sampai di sini. Mencukupkan ilmu yang sebenarnya tidak ada kata cukup dan tidaklah terbatas. Tapi kau tau bukan? Bahwa aku masih saja menyiakan-nyiakan waktu yang ada. Sering kali berkata “Nanti” untuk mengerjakan sesuatu. Seringkali membatasi pikiran dengan sengaja dan akhirnya kukembali terdiam. Berlanjut memberontakkan diri akibat ulah sendiri. Sering kali pula aku tak menemukan perihal apa yang akan kutulis. Bahkan kemalasan menjadi hal utama atas keterpakuan diri. Memlilih melakukan hal yang lebih mengenakkan di awal. Namun, sudah 18 hari ini kuberhasil menepis itu. Memanfaatkan deretan huruf untuk kurangkai   menjadi kata. Mengumpulkan kata menjadi kalimat penuh makna. Karena lagi-lagi aku menyadari bahwa waktu tak akan pernah bisa ...

DAY 17

  Sudah Ditentukan! Setiap dari kita sudah ditentukan waktu hidupnya di dunia. Seberapa lama dan komplet dengan apa yang akan ia dapatkan selama hidupnya. Mau kita mengelak dan protes, tetap saja kuasa Allah yang terbaik dan akan selalu menang. Mau kita berusaha penuh untuk mengubah jatah hidup kita, tidak akan bisa dan tidak akan pernah bisa. Setiap dari kita sudah ditentukan waktu untuk kembali. Tentang kapan gilirannya dan di mana kita pada saat itu. Mau secepat apa pun kita berlari, kematian akan tetap menghampiri. Mau sehebat apa pun kita menghindari, kematian pasti akan menyapa diri. Ketetapan-Nya tak ada yang mampu mengubah dan kita pun mau tak mau harus mempersiapkannya mulai dari sekarang. Setiap dari kita sudah ditentukan kadar masalahnya selama hidup di dunia. Setiap dari kita pula sudah ditentukan jawaban dan penyelesaiannya. Bukan tanpa maksud ketika Allah menghadirkan masalah, tidak lain untuk menguji seberapa kuat ia menerimanya dan seberapa bijak ia menyikapin...

DAY 16

  Bijak Memilah dan Menentukan Pernah sesekali aku fokus pada kolom ketik di layar ponselku. Mengetik dengan perlahan, diresapi, hingga kuniatkan untuk menekan tombol kirim. Namun, lagi-lagi ada bentakan “Jangan!”, yang membuatku kembali enggan. Kuhapus dan kumenarik napas dengan perlahan. Pernah sesekali kukumpulkan cerita-cerita. Pernah sesekali pula kumengaitkan cerita yang satu dengan yang lain, agar menambah keasikan tentunya. Kucoba mengemasnya dalam tatanan kata yang apik, lalu kusuguhkan pada orang dan waktu yang menurutku tepat. Namun, kukembali sadar, bahwa tak semua cerita harus dibagi dan dibuat konsumsi semua. Pernah sesekali aku dihadirkan dengan jalan yang jika dibayangkan akan indah untuk dilewati. Kupandang jalan itu, kutekadkam untuk bisa melaluinya, dan mulailah kuambil langkah pertama. Namun, belum sampai langkahku menapak, ternyata niatku terkurung, Aku tak bisa melangkah dan tak bisa bergerak. Seketika ada bisikkan kuat yang mengatakan bahwa lebih baik k...

DAY 15

  Mendesain Keturunan Dalam sebuah pertemuan yang berisi orang-orang hebat, aku disuguhkan dengan nasihat yang sangat menyentuh hati. Perihal persiapan kita untuk menyambut anak-anak kita kelak. Dikatakan oleh seorang Ibu yang sangat menginspirasi, bahwa sebelum kita mendesain jodoh impian, maka pelu sekali untuk mendesain keturunan kita. Mau keturunan yang seperti ulama siapa, mau keturunan yang seperti tokoh siapa, atau yang lainnya. Ketika ia mengatakan hal tersebut, aku langsung tercengang dan mencoba untuk menikmatinya dengan seksama. Beliau juga mengatakan, jika menurut kita itu terlalu berat, maka minimal mendesain keturunan kita untuk mengikuti jejak orang-orang hebat atau pengamal ilmunya. Guna untuk apa? Karena sungguh, kita sebagai perempuan adalah wadah utama untuk membentuk kepribadian anak-anak kita. Selain itu kita adalah rahim terbaik untuk tumbuh kembangnya anak-anak kita. Jika seorang Ibu yang baik agamanya, maka sudah bisa dipastikan bahwa anaknya kelak aka...

DAY 14

Kehebatan Yang Terkurung Kamu adalah kehebatan yang terkurung dalam kemalasan. Begitulah kata Kak Febriawan dalam akun instagramnya. Bagiku walaupun kata ini sangat sederhana, namun sangat menampar dan tentunya bisa kita artikan dengan mendalam. Setiap orang mempunyai kemampuan, setiap orang mempunyai kebiasaan, dan setiap orang mempunyai kehebatan. Kemampuan dan kehebatan tersebut lahir sebagai anugrah yang wajib kita jaga dan kembangkan. Bahkan setiap kemampuan dan kehebatan tersebut bisa menjadi ciri khas dari masing-masing individu, artinya tidak harus sama. Jika terjadi kesamaan itu pun bagian dari anugrah terbesar-Nya. Aku pernah sesekali bertanya pada diri sendiri, perihal apa sebenarnya yang aku bisa. Melihat orang lain yang lebih dulu melesat dan melangit. Sedangkan diri masih setia dengan pijakan tetap yang untuk bergerakpun masih banyak kebingungan. Sedangkan diri masih setia dengan jalan di tempat tanpa tau ranah tujuan. Itu dulu, namun sekarang tidak. Aku sudah men...

DAY 13

Suatu Saat Nanti Suatu saat nanti, aku akan menemukan hari di mana aku berpasangan denganmu. Duduk di teras rumah seraya menikmati teh manis buatanku. Saling bercerita tentang kisah yang berujung indah. Sesekali menatap seraya dengan senyum yang merekah. Saling bercanda dan tertawa yang membuat diri tak mau pisah. Suatu saat nanti, aku akan menyuguhkan bukuan puisi yang semuanya tentangmu. Membacakannya dengan hati dan kau pun menikmati. Tatapan mata indahmu tertuju ke muka polosku ini. Mulutku berkumat-kamit, hatiku berdebar-debar, dan senyumku pun tak bisa kutahan. Suatu saat nanti, kita tak lagi berjalan sendirian. Tak lagi berpasangan di persimpangan jalan dan tak lagi saling melempar sapa dari kejauhan. Melainkan kita sudah menemukan jalan untuk kita tempuh bersama. Tiada kilometer yang terlewati tanpa bergandengan. Bahkan ketika sampai di tujuan, tangan kita masih tergandeng erat dan tak mau melepas. Suatu saat ini, kita tak saling kirim surat. Tak saling melempar senyum ...

DAY 12

Terjaga dan Mekar di Masa Terbaik Untuk mendapatkan bunga yang cantik, tentunya harus ada usaha untuk menjaganya. Merawatnya setiap hari, diberikan sinar, disirami air, dan diberikan pupuk. Hingga pada masa terbaiknya bunga itu mekar, memberikan keharuman, dan keindahan. Begitu juga dengan kita sebagai wanita. Agar selalu terjaga maka kita pun harus pandai menjaganya. Lantas dengan apa kita menjaga diri kita? Pertama adalah dengan iman. Pastikan iman kita tetap kokoh dan mengakar. Tidak goyah ketika susah dan tidak pudar ketika payah. Karena sungguh, iman terletak pada hati. Dan hati adalah poros utama dalam tubuh kita. Jadi pastikan, di hati kita selalu ada iman. Kedua, menjaga dengan akhlak. Akhlak adalah pakaian setiap orang muslim. Jadi ketika orang lain menilai kita, maka yang pertama kali akan dinilai adalah pakaiannya, akhlaknya. Akhlak itu banyak macamnya, mulai dari akhlak berbicara, berperilaku, sampai dengan berinteraksi dengan orang lain. Pastikan karena iman yang kok...

ODOP CHALLENGE 2

REVIEW FILM TILIK DAN CREAM 1 .       TILIK Film “Tilik” adalah salah satu film pendek yang diproduksi oleh Ravacana Films dengan Dinas Kebudayaan DIY. Film ini berlatar belakang di Sleman, Yogyakarta, dengan suasana alam pedesaan dan kehidupan bermasyarakat di dalamnya. Ketika pertama kali kita membuka film tersebut, kita langsung disajikan dengan kebiasaan tilik (menjenguk) orang-orang yang terkena musibah. Seperti halnya dengan film tersebut yang menceritakan tentang sekelompok masyarakat yang sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit untuk menjenguk Bu lurah. Dipadukan dengan kendaraan yang mereka tumpangi yaitu truk, membuat kekhasan masyarakat desa. Ditambah lagi dengan saling bercerita di dalam truk tersebut. Bahkan menjalar sampai saling membicarakan orang lain. Tentu, menggambarkan sekali kehidupan orang-orang desa yang bermasyarakat. Bu Tejo, adalah tokoh yang paling menonjol dalam film tersebut. Selain dengan gaya bicaranya yang khas, dia...

DAY 11

  Tak Boleh Bosan dalam Berperan Dari bangun tidur sampai tidur lagi kita selalu disajikan dengan cerita yang seperti itu saja. Tak terhiasi dan tak berubah. Tentu bosan, apalagi tuntunan rutinitas yang berawal dari keterpaksaan cukup membuat penatnya hari. Pekerjaan kantor yang melelahkan, pekerjaan rumah yang melengahkan, atau aktivitas lainnya yang sering kali ingin terlewatkan dengan cepat. Ditambah lagi adanya masalah-masalah yang datang tanpa kita sangka sebelumnya. Berbelit, menyiksa, atau bahkan ingin mundur saja selalu mendominasi anggapan hati. Mungkin sesekali kita butuh meliarkan pikiran. Beranjak dari kebiasaan yang cukup melelahkan menuju perubahan sedikit demi sedikit, harusnya. Rupanya sudah penat namun diri tak mau beranjak. Cobalah melihat pohon yang berdiri tegak di pinggiran jalan sana. Ia tetap tegak walaupun dihantam oleh angin. Daunnya tetap melampai sapa di bawah panas matahari yang tak terkira. Bahkan semakin hari ia semakin tumbuh dan memberikan tedu...

DAY 10

Sesekali Sendiri dan Sepi Sesekali kita butuh sepi, menepi dari keramaian hanya untuk ketenangan. Atas kemajemukan yang barang kali diri tak kuasa menyaksikannya. Atas berjuta rasa yang barang kali pula kita tak kuasa mengendalikannya. Sebab, diri merasa terlalu kecil untuk sekeliling yang jauh lebih besar. Sesekali kita butuh sepi, meluapkan tangis hanya untuk kelegaan. Atas apa-apa yang menuntut dengan berat dan atas pundak yang tak kuasa memikulnya. Sesekali kita butuh sepi, mengistirahatkan diri dari penatnya permainan hati. Memilih bersembunyi untuk kembali menyiapkan kebesaran hati. Sesekali kita butuh sepi, atas segala tuntutan yang tak semuanya bisa sesuai harapan. Atas semua perintah yang tak semua kita kerjakan dengan sempurna. Atas semua nasihat yang barang kali hanya sampai pada pendengaran. Atas semua rayuan kemaksiatan untuk kebahagiaan yang sementara. Sesekali kita butuh sepi, atas semesta yang tak berpihak dan kejamnya dunia. Atas lara yang tercipta sebab bersam...

DAY 9

Bersamamu Aku Tak Lagi Rapuh Mukamu lusuh dan layu dengan mata sembabmu. Ragamu sehat, tapi jiwamu tidak. Senyummu melebar, tapi tak dengan hatimu. Berulang kali kau berusaha menutupi sedihmu dengan serapat mungkin. Namun, penilaian orang lain lebih jujur dari pada tingkahmu. Akhirnya, lagi-lagi kau terpatahkan dan kembali melemah. Mulai saat ini, kau bersamaku akan tenang. Aku akan setia mengajarkan cinta kepadamu. Tentang apa-apa yang selayaknya dicintai dan tentang apa-apa yang selayaknya dihiraukan. Bersamaku kini, kau akan bahagia. Lantas kau yang seperti apa yang bisa membuatku bahagia? Apakah kau yang setia menemaniku? Apakah kau yang selalu menghadirkan cinta untukku? Rupanya tak hanya itu. Kau segalanya bagitu. Penawar rasa sakit, tempat pelarian terbaik dari segala gundah, dan nasihat yang tak pernah sirna oleh masa. Malam itu, aku mendekatimu perlahan. Di bawah langit-langit suram dengan cahaya lampu dari pojok kamar. Dedaunan dari celah jendela melambai ramah. Aku ...

DAY 8

Deretan Waktu yang Harus Kau Nikmati Tuhan itu luar biasa ya? Menciptakan jutaan manusia dengan banyak sifat yang berbeda. Termasuk dengan kelahiran kita yang sudah didesain sedemikian rupa oleh-Nya. Aku sempat protes perihal mengapa banyak tuntutan setelah kulahir. Aku pun sempat mengeluh perihal belum menetapnya hatiku terhadap satu sifat yang aku pedomankan. Nyatanya Tuhan tak pernah salah melahirkan kita. Pada tempat dan waktu istimewa, yang sangat mungkin akan menjadi sejarah besar bagi kita, keluarga, dan semoga kelak bagi orang lain juga. Mungkin kita terlahir dalam cerita sederhana. Namun kita juga terlahir di bawah atap kesyukuran, berpagar dorongan, dan berlantai harapan. Ibu pernah mengatakan, bahwa kita telah sempurna diciptakan. Dari mulai cerita kelahiran, episode kebahagiaan, episode kesedihan, lika-liku perjuangan, dan jalan kegagalan maupun kesuksesan. Selain itu, Tuhan juga telah menyediakan tempat dan waktu terbaik untuk kita merajut cerita dan menorehkan tinta...

DAY 7

Aku Benci Perpulangan Hanya tinggal segelintir orang yang ada di pesantren. Mayoritas semuanya pulang ke rumah masing-masing. Tak ada suara obrolan di lorong teras pesantren, tak ada suara piring akibat makan malam bersama. Yang ada pintu-pintu kamar ditutup rapat dengan lampu yang mati di dalamnya. Kalau pun ada yang terbuka, hanya berisi satu atau dua orang yang sedang sibuk bermain dengan ponselnya. Suara kucing pun menjadi teman saat malam-malam itu. Suasana itu terulang setiap dua minggu sekali, karena memang jadwal perpulangan pesantren adalah dua minggu sekali. Dan kau tau? Aku paling benci waktu perpulangan. Bukan bermaksud tak ingin mereka bahagia sebab bisa pulang. Hanya saja diri tak kuasa menahan sendiri dan kesepian di pesantren. Ditambah lagi ketika banyak yang bertanya, “Kau tak pulang kampung?” Inginku berteriak keras di telinganya. Sudah tau rumahku cukup jauh ditambah lagi sedang musim wabah, pasti lah tak bisa pulang dengan mudahnya. Sabar, iya sabar. Tapi waja...