Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2020

DAY 76

  Berjeda dengan Sengaja Memang benar, menulis tak perlu memerlukan jeda. Biarlah ia terus mengalir bersama perasaan yang dipungut dengan perlahan. Mulia sekali tentunya, dari pada berserakan dan tak terekspresikan. Anggapku sederhana, karena cukup aku menjadi diriku dengan berkawan bersama tulisan. Walaupun tak heran, jika sempat kehabisan dan terjebak dalam pojok kebingunan. Lantas masih mau seterusnya berkawan bersama tulisan? Iya, karena yang paling berkesan dari proses menulis adalah bagaimana aku menemukan suatu ide dan kemudian menyambung ke ide yang lain. Seolah-olah menyambungkan titik yang awalnya terasa sangat jauh sekali. Seolah-olah pula menemukan bongkahan harta karun. Tentu, tiada yang dirasa selain bahagia. Terima kasih atas 75 hari lalu yang berhasil keraup dengan sempurna. Walaupun kusempat berada dalam ruang kosong, tak menemukan jalan pintas, bahkan pintu untuk keluar pun terlihat buram dan perlahan menghilang. Tetapi nyatanya, keterjebakkan itu hanyalah u...

DAY 75

  Mendayung di Muaraku Aku paham, bahwa sampai saat ini aku belum menemukan titik bahagia atas semua kerahan ingatan yang telah kutuangkan ke dalam lembaran. Bahkan, ini hanyalah sebatas kenangan tentangnya yang berserakan. Kemudian kupungut dengan perlahan dan menyajikannya ke dalam aroma kenyamanan. Tetapi nyatanya, tak semua berhasil kukumpulkan, ada perasaan yang tertinggal di tempat dahulu kau bersemayam. Rasa yang menjamu menjadi rindu, hingga hanya kulampiaskan dengan kata yang kumampu. Tak sekedar itu, ada lagi yang tertinggal sebab kedatanganmu. Entah alunan musik yang perlahan menjauh, bekas tapakkan kakimu, atau bahkan hanya sekedar aroma kopi kesukaanmu. Ya, walaupun tertinggal, ia telah menjadi konsumsi hati tanpa disadari. Bersemayan pada bait-bait kelamnya malam. Memuncak dalam kesunyian saat purnama tiba. Saling sapa bersama dedaunan di balik jendela. Hingga kenangan itu menjadi kawan tanpa mau pergi. Aku menyukainya. Seperti menatap senja di antara gedung-g...

DAY 74

  Selamat Menjadi Lebih Baik Luasnya tempat tak bisa dirasakan oleh orang yang hatinya sempit. Padahal jika ditelusuri, banyak tangan telah yang menjamahmu dengan ramah. Banyak ruang yang telah kau singgahi dengan jamuan istimewa. Banyak sapaan mesra pada setiap sudut bumi yang pernah kau tempati. Namun kenyatannya, hatimu terlalu sempit untuk menyadari itu. Sehingga yang ada hanya merengek akan ketidakpuasan dan ingin rasanya pindah lalu pergi. Dinginnya udara tak bisa dirasakan oleh orang yang hatinya panas. Iya, benar sekali. Karena sering kali hatimu ramai dengan hal-hal yang tak bisa kau kendalikan. Entah apa pun itu, perasaan, kewajiban, pekerjaan, hingga semua tertumpuk dan menjadi masalah pada hatimu. Sampai-sampai kau tak sadar akan keadaan. Bumi diguyur hujan, tapi hatimu tak sedikitpun terlerai dan merasa tenteram. “Ada apa dengan hatimu hai kawan?”, tanyaku. Cerahnya sinar matahati tak bisa dirasakan oleh orang yang hatinya redup. Ia tertutup kabut yang kau buat...

DAY 73

    Pondasi Kuat dari Sebuah Kisah Cinta Memang benar, modal utama untuk mencintai adalah rasa suka. Rasa suka   akan salah satu atau segala tentang dirinya. Namun untuk menyukainya, kita juga membutuhkan komponen-komponen sebagai penguat dan penyangganya. Bukan sekedar rasa suka yang sekilas terlihat bisa tegak berdiri sendiri. Baik hatinya misalnya. Karena hati adalah poros dari setiap diri seseorang. Bisa saja penampilannya terlihat biasa, tetapi hatinya tiada yang tau bukan? Baiknya hati memang tak bisa terlihat hanya dari sekejab mata. Ia tersembunyi dengan rapat dan hanya bisa dibuktikan dengan akhlaknya. Baik akhlak zahir maupun batin. Selain itu, kedewasaan, ilmu agama, iman, dan harta yang cukup juga menjadi pondasi utama untuk membangun sempurnanya kisah cinta. Tak melulu tentang harta yang sepertinya membuat bahagia. Karena sungguh, harta tanpa iman tak bisa berujung surga. Beruntung sekali jika antara dua insan disatukan dalam kisah cinta yang mempunya...

DAY 72

  Terima Kasih Hati Belum akhir aneka masalah yang menghampiri. Saat satu dirasa selesai, satu tunas baru pun muncul. Bahkan sering kali pula, satu belum selesai, sudah muncul lagi masalah baru. Akhirnya menumpuk, menambah kerumitan, dan entah mau apa yang diperbuat. Harapannya, semoga tak pernah berpikiran untuk mengakhiri dengan jalan yang tak seharusnya. Mau kita berjalan sejauh apa, mau kita berlari sehebat apa, atau mau seberat apa pun masalah yang menimpa. Yang bisa menghendaki, mengatasi, dan menyelesaikannya hanyalah Allah yang kemudian disusul oleh diri kita sendiri. Lantas apa yang seharusnya kita lakukan? Ya, lebih mendekat kepada diri sendiri.   Tepatnya untuk lebih berinteraksi dengan diri sendiri, lebih sering berkomunikasi, seperti menghadirkan sikap penyadaran untuk diri sendiri. Berterima kasih juga kepada diri sendiri yang sudah mampu bertahan sampai detik ini, sudah mau terlihat tegar walaupun sebenarnya patah, dan sudah mau berlaku baik-baik saja. B...

DAY 71

Kebenaran Hanya Milik Allah Ada saat di mana diri dikecam masalah, menganggap diri terlalu bodoh, ditikam hinaan, ditampar dengan rasa sakit, hingga menjadi sebuah keterpurukkan. Wajar jika diri merasa benar padahal sebenarnya salah, wajar juga diri membenarkan apa yang sudah dilakukan. Bukankah itu sebuah pembelaan? Ya, siapa juga yang mau ditampar berkali-kali atas kesalahan. Sudah menjadi kewajaran jika hidup bersama tak selamanya bisa dalam satu pemahaman. Sudah pasti akan ada waktu di mana saling beradu pendapat, saling melempar nasihat, bahkan saling membalas rasa. Jika sudah memuncak, saling memahami perasaan pun tak pernah terpikirkan. Namun titik di sini bukan siapa yang paling benar, siapa yang kuat pendapatnya, dan siapa yang banyak pendukungnya. Tetapi tentang bagaimana berpendapat tanpa ada yang tersakiti, tanpa saling menjatuhkan, menyampaiakn argumen dengan penglihatan dari banyak sisi, dan sampai pada bagaimana kita bisa menyelesaikannya dengan bijaksana. Terima...

DAY 70

  Kembali Tak Bosan Ada banyak cara untuk menjadikan hidup lebih sempurna. Salah satunya dengan menjalin relasi bersama orang lain. Coba saja dipikirkan jika kita tak berteman, tak berhubungan, hingga tak saling sapa. Tentu yang ada hanya hampa dan kebosanan yang menimpa. Seperti halnya dengan cerita hari ini yang aku alami. Dari sekian bulan yang hanya terpantau lewat sosial media, komunikasi yang terbatas, hingga lupa akan pertemuan. Namun hari ini menjadi hari pelampiasan dari dekapan atap rumah yang membosankan. Kami dipertemukan kembali oleh waktu dalam tempat yang berpihak. Dikumpulkan dalam satu tujuan, satu langkah, hingga berbuah menjadi satu cerita hebat yang tak semua orang bisa mendapatkannya. Ya, teman-teman organisasilah yang berhasil membuatku untuk tak hanya berpangku tangan. Menghadirkan narasi juang hanya demi selesainya beberapa acara yang telah kami rancang. Mungkin ini terlihat sederhana, tapi dari pengorbanan waktu, menjadikan kami lebih memahami. Dari...

DAY 69

Kisah-kisah dalam Pertemuan Pertemuan dengan seseorang itu bukan sebagai ketidaksengajaan atau bahkan kebetulan. Artinya, itu sudah didesain dan jauh direncanakan oleh Tuhan, bahkan sebelum kau terlahir ke dunia. Hingga pada akhirnya pertemuan itu menjadi awal dari ikatan pertemanan, ada juga yang berlanjut sampai membangun rumah tangga dengan penuh cinta. Ada pula pertemuan yang hanya sebatas mampir, singgah, dan meminta seteguk air minum saja. Kemudian pergi kembali tanpa kita tau ke mana setelahnya. Ada lagi pertemuan yang memberikan nasihat dari kisah hidupnya, kemudian kita sadari dan menerapkannya dalam kehidupan kita sendiri. Tak sebatas itu, terkadang pertemuan seperti duduknya dua orang asing di kursi kereta. Tanpa saling sapa, saling tatap, dan saling cerita. Hingga hanya bisa menerka itu siapa dan dari mana ia. Seperti itulah hidup, tak melulu yang kita temukan akan menetap di kehidupan kita. Seperti juga manusia, kalau tidak saling membagi suka, pasti saling memberi l...

DAY 68

  Teman Satu Frekuensi Pasti kita pernah menemui perasaan di mana kita merasa sendirian. Tidak ada kawan yang satu pemikiran, ditikam ambisi, memikul harapan sendirian, sampai pada juang yang sendirian. Ya, aku pun seperti itu. Walaupun sebenarnya juga paham, bahwa kita tak pernah sendiri. Selalu ada orang lain yang akan singgah atau bahkan menetap untuk membersamai juang kita. Hanya saja tak selamanya berada dalam satu frame pemikiran. Kata Kak Zaza, kita harus percaya bahwa Tuhan akan selalu mempertemukan dan mendekatkan kita dengan orang-orang yang satu frekuensi, punya ambisi yang sama, punya cita-cita yang sama, dan punya mimpi hebat yang sama. Kalau pun kita belum menemukannya sekarang, pasti suatu saat kita akan menggenggam erat itu. Hadirnya orang-orang itu pun bisa melalui jalan yang tak pernah kita sangka sebelumnya. Barangkali melalui teman yang selama ini kita sangka biasa saja, teman yang kita temui di jalan, teman satu atap, teman satu wadah juang atau yang lain...

DAY 67

Terenyuh Bersosial Media Semakin aku berinteraksi dengan sosial media, semakin pula aku terlena. Sosial media telah mengubah hari-hariku menjadi amat ramai. Saat sendiri pun aku merasa ramai dengan adanya informasi-informasi yang bisa kudapatkan hanya dari layar ponsel saja. Karena tak ada yang bisa mengelak, dunia dan seisinya termuat dalam ponsel dan sosial media. Bahkan kapan pun kita bisa mengakses itu, sesuka kita mau. Namun tak semua harus kita akses bukan? Di sini peran kita dimulai, mana yang seharusnya kita akses, kita cari, kita manfaatkan, dan mana yang seharusnya kita abaikan. Bukan hanya itu saja, kita juga harus pandai-pandai menyaring informasi. Karena tak semua informasi berisi fakta dan akan menambah pengetahuan kita. Ada pula beberapa informasi yang hanya membuat kita terjebak dan saling menyerang. Aku tak pernah merasa bosan untuk menggilir beranda sosial media, bahkan sekali gilir saja rasanya tak mau berhenti dan terus mengilir sampai ke bawah. Ada yang berup...

DAY 66

  Berkumpul Kembali di Surga Aku pernah ditanya oleh seseorang, doa apa yang sering kau panjatkan? Jodoh terbaik? Harta yang berkah? Hidup dengan bahagia? Atau sukses dunia dan akhirat? Iya, tepat sekali. Namun doa-doa itu menjadi deretan ke sekian setelah satu doa yang tak pernah lupa kulangitkan. Berkumpul bersama keluarga di surganya Allah, iya itu. Kau pernah mendengar surga And? Allah berfirman dalam Al-Qur’an, “Dan orang yang sabar karena mengharap keridaan Tuhannya. Melaksanakan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang kami berikan kepada mereka, secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan. Orang itulah yang mendapatkan tempat kesudahan yang baik.” Disambung lagi “(yaitu) surga-surga And, mereka masuk ke dalamnya bersama dengan orang yang shalih dari nenek moyangnya, pasangan-pasangannya, dan anak cucunya. Sedang para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu. Sambil mengucapkan “Selamat sejahtera atasmu kare...

DAY 65

  Selamat Hari Pahlawan Lama ya kita tak menengok masa lalu? Sebab, selama ini kita hanya terfokus pada kebahagiaan yang kini telah   kita rasakan. Tanpa adanya penjajahan, perebutan kekuasaan, peperangan bersenjata, sampai tumbangnya jiwa-jiwa dengan berlumuran darah. Iya, hari ini tepat 73 silam peristiwa pertumpahan darah di tanah pertiwi setelah kemerdekaan. Hari di mana para pahlawan menggelorakan semangat juang dan yakin akan kemenangan. Bahkan semboyan pada saat itu adalah merdeka atau mati. Sungguh, besarnya semangat, tekad, rela berkorban pada saat itu tak bisa dibayangkan, karena saking besarnya. Selamat hari pahlawan, kataku. Seraya memandang potret masa lalu yang penuh dengan narasi juang yang tak terkalahkan. Mungkin halang rintang dan tantangan masa kini tak sehebat di masa lalu. Namun, bukan berarti kita hanya berdiam diri. Karena sejatinya, halang rintang dan tantangan akan mengikuti zaman. Dan saat ini lah, kita menjadi tokoh utama dalam menyerbu perlawa...

DAY 64

  Disatukan Oleh Hati yang Bercahaya Bukankah hati diciptakan sepaket dengan rasa-rasa yang ada di dalamnya? Semakin kita berinteraksi dengan hati, semakian banyak pula rasa yang akan kita terima. Sepertinya juga peran hati memang tak bisa terpisahkan dari setiap laku kita. hingga akhirnya timbul bahagia, haru, tangis, kecewa, takut, khawatir, dan lain macamnya. Bukankah hati yang selalu mengingat Allah adalah hati yang bercahaya? Semakin lama dan semakin banyak ia berinteraksi dengan Allah, semakin terang pula hatinya. Tak pernah padam dimakan usia atau berubah menjadi suram dan tertutup. Tak akan pernah. Maka bayangkan jika dua hati disatukan dengan bekal cahaya yang dimilikinya, semakin terang bukan? Tak hanya itu, dua hati itu memutuskan untuk menetap di rumah yang sama. Membumikan cinta dan kasing sayang. Sungguh betapa terang rumah itu. Bukankah hati yang selalu diliputi dzikir juga akan memancarkan cahaya? Dari lisannya pula yang ia gunakan untuk melantunkan kalam-Ny...

DAY 63

  Duka Setiap Orang Berbeda Setiap hari kutak bosan mengamati teman-teman. Dari cara ia berjalan, berpakaian, berbicara, sampai pada hal yang membuat ia bahagia atau pun sedih. Jelas bahwa tak semua harus pandai-pandai menutup mata, fokus kepada diri sendiri, dan tak menghiraukan orang lain. Namun, pengamatanku ini bukan untuk hal membanding-bandingkan. Melainkan untuk penyadaran kepada diri sendiri. Dengan harapan pula aku bisa mengambil pelajaran dan melangitkan kesyukuran yang lebih. Seperti biasa, aku selalu turun dari masjid setalah melaksanakan agenda pesantren dengan barisan paling belakang. Memilih berdiam dulu di masjid, berinteraksi dengan Al-Qur’an, atau bahkan hanya sekadar mencari ketenangan. Aku juga tak pernah sendiri, selalu ada temanku yang juga setia berlama-lama di masjid. Aku melihat temanku itu termenung di pojok masjid. Kepalanya menunduk, mukanya haru, dengan Al-Qur’an di pangkungannya. Aku mencoba mendekatinya. Benar, ia sedang berusaha mengulang hafal...

DAY 62

  Laki-laki dan Berjuta Cintanya Aku menemukan sosok laki-laki yang selalu memberi pancaran energi. Dia selalu mengajarkanku untuk seperti matahari, memberikan sinar dan kehangatan. Dia juga mengajarkanku   untuk seperti rembulan, menjadi penerang di kala gelap dan sunyi. Bahkan dia juga mengajarkanku untuk seperti seburnya pohon, semasih tumbuh dan semakin memberikan teduh. Aku menemukan sosok laki-laki yang hatinya sekuat baja. Ditempa dengan tuntutan, dibentuk dalam benturan, hingga menjadi sosok yang tak terkalahkan. Aku banyak belajar darinya, tentang kuatnya ia dalam mengarungi samudra kehidupan, menjadi orang yang kokoh dalam pendirian, hingga pundaknya yang mampu memanggul beban tanpa ia melontarkan keluhnya. Aku menemukan sosok laki-laki dengan berjuta cintanya. Tak memandang kapan dan di mana, setiap ucapannya menjadi penyejuk jiwa. Setiap ulah tangannya, menanamkan cinta mendalam untuk anaknya. Setiap langkahnya, menjadi serpihan cinta yang terkenang. Bahkan ...

ODOP CHALLENGE 9

  Ada Hikmah Dibalik Wabah Sudah berbulan-bulan lamanya kita dikurung oleh keadaan. Bahkan tahun 2020 ini akan menjadi narasi penuh duka yang tidak pernah disangka sebelumnya. Wabah yang semakin menjalar dengan mudah, kesadaran masyarakat yang kurang, hingga berdampak pada semua aspek kehidupan, terutama dalam bidang perekonomian. Manusia dihadapkan dengan kebutuhan sedangkan kondisi yang tidak memungkinkan untuk beraktivitas seperti sedia kala. Tentu, hanya berdiam diri tidak akan bisa memuaskan kemauan manusia. Manusia harus memutar otak untuk tetap bisa memenuhi kebutuhannya. Bahkan tidak jarang, ada yang berani menerjang keadaan hanya demi realisasi kebutuhan. Seiring waktu berjalan, PSBB mulai dilonggarkan dan manusia sudah bisa beraktivitas ke luar rumah. Hanya saja dituntut untuk tetap mematuhi dan menjalankan protokol kesehatan. Seperti menghindari keramaian, jaga jarak, mencuci tangan setiap beberapa menit sekali, memakai masker, dan pola hidup sehat. Kebijakan PSB...

DAY 60

  Selagi Kau Bisa Untuk kau yang sekarang sedang berjuang menciptakan karya, bagaimana prosesnya? Apakah ada terselip rasa ketidakpercayaan hingga kau mengira ini tak layak tercipta? Atau kau yang terlalu melihat teman-temanmu yang lebih dulu bahagia atas karyanya? Tak mengapa. Bukankah Allah menilai proses juang hamba-Nya tanpa melihat ia bisa atau tidak? Bukankah Allah pula yang menjadikan kehebatan seorang hamba pada waktu terbaiknya? Untuk kau yang sedang berusaha mendapatkan gelar sarjana, bagaimana pencapaiannya? Apakah kau mengira bahwa ini adalah pencapaian yang biasa saja? Atau malah kau mengira bahwa ini adalah hal yang amatlah rumit jika kau perjuangkan? Tak mengapa. Bukankah untuk membuktikan kehebatan ilmu memang harus menggunakan proses yang panjang? Ya, semoga ilmumu dan gelarmu bisa bermanfaat untuk kedepannya. Untuk kau yang sekarang sedang bertekad untuk mengemban amanah, bagaimana rasanya? Apakah pundakmu terasa lelah? Apakah serasa tak ada yang membantu un...

DAY 59

  Antara Diri Sendiri atau Orang Lain Barangkali ada yang beranggapan, bahwa bersama-sama adalah hal yang menyenangkan. Menyatukan rasa, pendapat, pikiran, langkah, dan juga tangan. Termasuk dengan kamu yang terlalu fokus pada harapan akan hidup bersamanya. Sama-sama memulai dari titik nol, sama-sama berjuang, dan sama-sama akan sampai pada titik tujuan. Tak hanya sekedar itu, kamu tak mau jika tanganmu hanya digunakan untuk keperluan sendiri, untuk memuaskan keinginan pribadi, dan diam akan sekitar. Karena nyatanya, kamu terlalu leluasa dan mudah untuk mengulurkan bantuan. Menyembuhkan dirimu, membahagiakan dirimu, dan membuat dirimu agar senantiasa baik-baik saja. Ya, senantiasa mengulurkan bantuan memang kemuliaan.   Bahkan sampai tak sadar bahwa dirimu juga sebenarnya membutuhkan bantuan. Barangkali juga nasibmu sama seperti mereka yang diberikan bantuan, atau bisa jadi lebih berat dan parah. Hanya saja kau tak memperdulikan dirimu sendiri. Terpenting orang lain baha...

DAY 58

  Ceritakan pada Langit Apa yang kau ceritakan pada langit tidaklah bisa tersebar. Yang ada hanya mengangkasa, menuju pelukan Tuhan, dan bersemedi pada kenyamanan. Hingga diturunkan kembali bukan lagi sebagai harapan, melainkan kenyataan. Ya, sesuatu yang kau ceritakan itu akan jelas sampai di tangan Tuhan dan tak ada penghalang yang membatasinya. Apa yang kau ceritakan pada langit tidaklah menjadi buah ejekan. Ia akan menjadi rahasia yang Tuhan pun bantu menjaganya. Ditutup rapat dalam dekapan Tuhan hingga dilepaskan menjadi sebuah kebahagiaan. Bahkan, seluruh isi bumi dengan luasnya langit menjadi sanksi akan bincang mesra seorang hamba bersama Tuhannya. Berbeda saat kau bercerita kepada penduduk bumi. Karena siapa sangka akan menjadi buah bincang sampai pada seorang yang tak kau kenal. Begitu menenangkan apa yang kau ceritakan pada langit, tak ada yang bisa menerobos rahasiamu, walaupun sekedar melewati sela-sela, tak akan bisa. Sebab rahasiamu hanya kau dan Tuhan yang tau...

DAY 57

  Takdir yang Bekerja Apa Kabar? Seruku lirih pada setiap waktu. Satu pertanyaan penuh rahasia akan jawaban. Tanyaku senyap, sunyi, dan tak ada yang tau. Satu-satunya yang paling tau adalah takdir. Karena atas takdir itu, ia menempatkanku pada keyakinan walau jarak terbentang. Karena takdir itu pula, sejauh mata memandang akan tetap dalam keterpihakan. Aku terus belajar untuk berjalan tanpamu. Pada setiap kilometer yang kujamah dengan mudah, pada setiap rintangan yang kulalui dengan ringan, dan pada setiap sisi jalan yang kutepis akan hambatan. Tak sekedar itu, aku juga masih leluasa untuk menyapu dedaunan. Memetik bunga pada ujung pangkal yang rendah dan menggugurkannya seraya senyum yang mendalam. Aku tak pernah melemah, mengeluh pun jarang, aku hanya penasaran perihal bagaimana takdir bekerja. Atas hujan yang datang, segala harapanku pun bekerja dengan spontan. Bukankah hujan adalah waktu terbaik untuk merapalkam pinta? Ya, selain pada sunyinya malam. Untuk itu, atas hujan...