DAY 67

Terenyuh Bersosial Media

Semakin aku berinteraksi dengan sosial media, semakin pula aku terlena. Sosial media telah mengubah hari-hariku menjadi amat ramai. Saat sendiri pun aku merasa ramai dengan adanya informasi-informasi yang bisa kudapatkan hanya dari layar ponsel saja. Karena tak ada yang bisa mengelak, dunia dan seisinya termuat dalam ponsel dan sosial media. Bahkan kapan pun kita bisa mengakses itu, sesuka kita mau.

Namun tak semua harus kita akses bukan? Di sini peran kita dimulai, mana yang seharusnya kita akses, kita cari, kita manfaatkan, dan mana yang seharusnya kita abaikan. Bukan hanya itu saja, kita juga harus pandai-pandai menyaring informasi. Karena tak semua informasi berisi fakta dan akan menambah pengetahuan kita. Ada pula beberapa informasi yang hanya membuat kita terjebak dan saling menyerang.

Aku tak pernah merasa bosan untuk menggilir beranda sosial media, bahkan sekali gilir saja rasanya tak mau berhenti dan terus mengilir sampai ke bawah. Ada yang berupa postingan lucu, mendidik, berita, dan ada juga yang mengandung bawang. Mataku selalu sendu seraya air mata yang mulai menggenang ketika melihat gambar dengan caption sedihnya. Seperti pekan lalu, aku melihat ada anak yang berkerja sebagai pemulung. Ia terlihat sedang rehat di teras toko seraya membaca Al-Qu’an.

Bagaimana tidak tersentak dan terenyuh bukan? Jika diri ini saja masih menyia-nyikan waktu untuk membaca Al-Qur’an. Sedangkan anak itu bisa menyempatkan walaupun kondisinya sangat memprihatinkan. Ada juga postingan dari salah satu akun di instagram tentang juangnya sang ayah menghidupi keluarga. Menjajakan mainan sederhana dengan tubuh yang sudah mulai melemah, wajahnya dan tangannya keriput, keringatnya bercucuran, hingga pakaiannya yang lusuh.

Bagaimana tidak terharu juga bukan? Jika diri ini saja masih sering tak menghiraukan apa yang Ayah ucapkan. Masih sering tak menyelipkan doa untuknya dan masih sering tak menyadari betapa keras juangnya. Itulah gambaran kondisi ayah kita, yang juangnya tak pernah padam dengan usianya yang mulai renta.

Dalam hal ini kita bisa mengambil pelajaran, bahwa sosial media dihadirkan bukan hanya sebatas untuk kebahagiaan. Ada kalanya hadir untuk menyadarkan hati kita setelah kita melihat apa yang ada di sana. Barangkali juga kita masih sering tutup mata dan telinga terhadap sekitar dan sosial media hadir untuk membukannya.

Semoga kemajuan teknologi ini bisa membuat keberkahan dalam mengarungi samudra kehidupan. Semoga pula kita tak terjebak dalam kesenangan bersosial media yang melenakan. Masih bisa ingat kapan waktu salat. waktu mencari ilmu, waktu untuk tidur dan makan. Jadikanlah sosial media sebagai sarana untuk memudahkan dalam melakukan kebaikan.

 

#DAY67

#ODOP

#OneDayOnePost


Komentar

Postingan populer dari blog ini

DAY 13

DAY 41

DAY 42