Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2020

DAY 55

Gambar
  Taka Ada yang Sia-sia Hari ini sinar mentari menerobos sela-sela jendela. Menyapa pelan setelah lamanya diri bersemedi tanpa jeda. Ternyata, hujan beberapa hari lalu telah purna dalam tugasnya. Bukan lagi sempitnya kamar yang menjadi ruang untuk mengapresikan rasa. Bukan lagi kesendirian dengan paksaan agar tetap baik-baik saja. Ya, kupastikan semesta menantiku untuk melangitkan bahagia. Dan benar, bahagia bisa datang dari arah mana saja. Seperti sekarang ini dan tanpa disangka. Menatap langit dari arah yang lebih tinggi, memandang ke bawah dalam hanyutan kegamuman, dan melambungkan segala cita dan harapan. Atas mendung yang kelabu, hujan yang menyejukkan, atau mentari yang ramah dan menghangatkan. Juga rerumputan yang bergoyang dengan angin yang membisikkan besarnya kerinduan. Aku harap ini menjadi bagian narasi yang patut dikenang. Mari, menatap lebih lama perihal ruang yang sedang kita singgahi. Bukan sekedar itu, mari menajamkan kesadaran pada setiap yang didengar d...

ODOP CHALLANGE 8

  Pembawa Perubahan Semesta akan tetap menyajikan cerita Dengan segudang pengetahuan tak terkira Dengan tangan-tangan hebat tak terkendala Dan dengan tekad yang senantiasa membaja                                                                                       Siapa itu wahai kawan? Ya, manusia hebat bernama pemuda Tiada kata sebanding untuknya Kecuali tonggak peradaban bangsa Walaupun bumiku sedang diguncang derita Tangisan yang tak kunjung mereda Jatuh yang tak kunjung bangkit Sengsara yang terus melangit Tetapi, ia hadir sebagai pembawa perubahan Mengalirkan mata air untuk kedamaian Menjadi garda terdepan ...

DAY 53

Gambar
  Bukan Kepuasan Semata Jarang sekali si mungil pergi di pagi-pagi buta. Mengenakan jilbab biru tua, sepatu casual, jaket organisasi dan satu botol air minum yang diletakkan di tas kecilnya. Ya, rupanya ia bergegas untuk membuka mata lebih lebar lagi, menghirup udara segar dari ketinggian, dan memaknai kebersamaan pada tempat yang berbeda. Hari ini adalah kali ke dua kumenaiki gunung, menapakkan kaki pada tanah yang berbeda, melangkahkan kaki pada terjalnya rintangan, dan merangkai cerita dengan ruang yang tak sama. Jika sebelumnya aku hanya terfokus pada ruang sempitku dan memaksa untuk pikiran tetap meluas. Tapi kali ini kuberhasil keluar dari penjara, menerbangkan imajinasi yang tak terbatas, dan berharap bisa kurangkai untuk kemanfaatan. Tentunya, pada setiap cerita akan selalu ada titik untuk kita ambil manfaatnya. Seperti saat naik gunung ini. Aku menemukan jiwa-jiwa yang kuat dan pantang menyerah sebelum sampai di puncak. Aku menemukan rangkulan semangat pada setiap me...

DAY 52

  Diriku yang Baru Pada awalnya kukira aku ini aneh dan tidak normal. dengan segala sikap dan tingkah memesona dari setiap lelaki. Bahkan nyaris selalu bersikap bodo amat tanpa memandang siapa lelaki itu dan di mana ia. Justru anehnya, aku tak pernah merasa bosan dan kesepian. Aku hampir setiap hari bisa bahagia tanpa ada rasa yang berbeda. Perlahan, rasa yang berbeda muncul tiba-tiba. Padahal kukira tak akan hadir dan tak akan bisa hadir. Nyatanya, hati memang lebih jujur dari apa pun. Tak ada yang bisa menepis, melarang pun demikian. Bersamaan dengan hadirnya, aku mulai mengenal apa itu kesepian, khawatir, takut kehilangan, cemburu, curiga, dan sebagainya. Perlahan aku pun sadar, bahwa aku telah menemukan sosok aku yang berbeda. sosok aku pada ruang yang baru, dengan orang baru, dan dengan sederet rasa yang baru. Sesekali ruang itu gelap, tapi selalu kuanggap terang. Sesekali ruang itu sunyi, tapi selalu kuanggap ramai. Ya, berkat dia yang tiba-tiba ada, walau tak selalu ny...

DAY 51

Gambar
  Berteduh dari Hujan Ada yang dinanti setiap datangnya pagi. Secangkir kopi hangat buatanmu? Sapa manis dari tenteramnya wajahmu? Atau bahkan balasan pesanmu untukku? Tidak, tidak sama sekali. Ya, pagi ini adalah selasa. Tidak ada sorot cahaya yang menyela-nyela lewat jendela. Hujan pun turun, redup, dan kelabu. Selamat berteduh dari hujan, jangan lupa juga untuk menepi. Karena mungkin genangan telah membanjiri halaman rumahmu, kenangan pun juga demikian. Telah membanjiri hatimu. Tiada yang bisa mengelak, bahwa hujan menghadirkan rasa akan berjuta cerita lalu. Tanpa berusaha untuk mengingat-ingat pun nyatanya hati dan otak bekerja secara spontan. Beruntung jika hujan di kala pagi ditemani cakap mesra bersama keluarga. Tak bisa membayangkan jika dikurung dalam kesendirian. Serasa bumi terlalu banyak harunya, terlalu banyak sedihnya, dan tak pernah berpihak. Beruntung juga aku menemukan hujan, serasa ada banyak inspirasi di kala kuingin menuliskan cerita. Walaupun kusendiri. ...

DAY 50

  Singgah pada Setiap Potongan Narasi Terkadang kita perlu merasakan sakit, supaya kita bisa menyadari perihal nikmatnya sehat. Terkadang kita perlu merasakan terjatuh, supaya kedepannya kita bisa lebih menghargai sesuatu. Terkadang kita perlu merasakan susah, supaya kedepannya kita bisa lebih bersyukur akan kenikmatan. Terkadang juga kita perlu merasa kehilangan, supaya kita lebih menghargai kebersamaan dan pertemuan. Terkadang pula kita juga butuh sepi, menepi dari keramainya supaya mengistirahatkan hati. Atau terkadang kita juga perlu mengalah, dari pada memperjuangkan sesuatu yang membuat rumitnya keadaan. Dan terkadang kita juga perlu sekali untuk diam, dari pada menjelaskan sesuatu kepada orang yang tak ingin dan sulit mau mengerti. Karena hidup bukan hanya tentang siapa yang di depan, siapa yang terlihat, dan siapa yang menang. Hidup adalah kumpulan dari paket narasi yang suatu saat semua orang akan merasakannya. Layaknya dedaunan, mereka bersemi, tumbuh, gugur, dan ...

DAY 49

  Tak Selamanya Teman, Tak Juga Musuh Terkadang Tuhan mempertemukan kita dengan seseorang bukan sebagai teman, melainkan sebagai pembelajaran. Tentang bagaimana respon darinya ketika kita dilanda susah maupun bahagia. Tentang bagaimana mengerti dan percaya setiap tindakan kita. Tentang sajian pundak dan nasihat terbaiknya. Walaupun tak selamanya seperti itu dan tak selamanya menghadirkan bahagia, tapi cukup dijadikan pembelajaran untuk kedepannya. Terkadang yang selama ini kita anggap bahwa dia adalah teman setia untuk membersamai setiap langkah, tapi nyatanya malah memilih berjalan pada ranahnya sendiri. Sehingga ada saatnya diri ditikam sendirian. Tidak tau mau bercakap dengan siapa, tidak tau mau menaruh kepercayaan sama siapa, dan tidak tau lagi pundak mana yang siap sedia menampung segala keluh dan kesah. Terkadang yang selama ini kita kira bahwa dia adalah orang baik dalam potret hidup kita, yang tak pernah melontarkan sedikitpun kata kasar atau pun tindakan menyakitkan...

DAY 48

  Selamat Akhir Pekan Hari ini, ingin rasanya merebahkan lelah, dari penatnya hari-hari yang tak kunjung reda atas amanahm tenggung jawab, luka dan duka. Layaknya kasur yang sudah tersedia rapi dengan bantal empuknya. Kemudian meletakkan kepala, menelentangkan badan, menatap langit-langit, dan tertidur dengan tenang. Sayangnya tidak, sampai memasuki waktu-waktu di pekan terakhir pun diri masih disibukkan dengan yang lain. Hari ini, selain ingin menenangkan badan, ingin rasanya menatap lebih lama layar laptop. Mengerjakan sederet tugas yang belum ada ujungnya. Menyelesaikannya dengan perlahan dengan harapan satu demi satu akan terurai. Tapi nyatanya juga tidak, daftar tugas-tugas itu masih menempel setia tanpa satu pun yang tercoret. Ah , waktumu yang kemaren-kemaren untuk apa? Giliran ada amanah lain kenapa mengeluh protes dan meronta pasrah? Iya manusia seperti aku memang belum menggunakan waktu dengan bijak. Apalagi ditambahkan dengan beban yang barangkali membuat berkelahi...

DAY 47

  Melerai Derita Pernah berada dalam ambang duka? Atau pernah merasa diri dikecam derita? Sampai-sampai marasa bahwa dirinya dikurung dalam lenyap dan senyap. Tidak tau mau berbuat apa, tidak tau mau cerita dengan siapa. Yang ada hanya menangis, menepi dari keramaian, dan meronta pasrah. Melebur menjadi buih-buih sesak dan mengalir menuju penyalahan tanpa penyadaran. Sungguh suram. Sadar, ada banyak bahagia yang harus kau jemput. Ada banyak tawa yang kau lontarkan. Sebab, menyalahkan yang lalu tidak akan menghasilkan apa pun kecuali sesak. Jika kau mampu meluapkan keluh pada tangismu, kenapa kau tak mampu untuk bangkit setelahnya? Sejatinya, akan ada banyak hikmah atas segala kejadian. Sejatinya pula poros sifat, sikap, dan pengendalian letaknya hati. Jika hati saja masih kacau balau merespon atas apa yang terjadi, lantas bagaimana diri agar tak terjebak dalam lingkaran senyap? Walaupun juga sadar, apa yang indah dari sunyi. Ketika aku hanya seorang diri. Dengan itu puisi d...

DAY 46

  Merebahkan Lelah dan Menenangkan Kerumitan :) Kabar, iya sebuah hal yang datang atas kehendak Tuhan. Entah layaknya polisi tidur di jalanan yang barangkali sedikit mengganggu. Entah seperti percikan api yang tiba-tiba menyengat dan pergi. Atau bahkan seperti sorot cahaya bintang yang sempat kita nantikan. Dan sebab, sebuah kabar bisa tiba-tiba hadir tanpa kita sangka sebelumnya. Seperti malam lalu, kabar tentang guyuran air mata yang tak reda sampai kala pagi. Bukan bermaksud sandiwara, hanya saja jika siap bermain dengan hati, maka harus siap pula menerima konsekuensi. Walaupun paham betul, hati adalah kejujuran paling madalam. Tanpa bisa dibantah atau pun disalahnya. Hanya tinggal dengan siapa hati berinteraksi. Dengan orang yang mampu memahamikah? Atau sebaliknya? Bukan hanya itu kawan, saat siang menjelang, aku kembali dihadapkan dengan kabar yang sebelumnya aku tak menyangka. Budeku dipanggil oleh Allah dan selisih 40 hari dengan kematian Ibunya. Meninggalkan dua anak ...

ODOP CHALLENGE 7

Gambar
  Analisis Dampak Wabah Pada Masyarakat Saat ini, Indonesia sedang dihantam duka yang tidak kunjung mereda. Indonesia berada dalam ambang bahaya untuk kemajuan negara. Bukan saat ini saja, melainkan sudah sejak Maret terhimpit realita. Tentu, hal ini dikarenakan adanya wabah yang sampai saat ini penularannya menjamah dengan mudah ke banyak daerah. Per tanggal 20 Oktober 2020, Indonesia sudah ada 369.000 jiwa yang positif, 294.000 dinyatakan sembuh, dan 12.374 dinyatakan meninggal dunia. Jumlah itu bukanlah sedikit, melainkan termasuk besar dengan kondisi Indonesia yang semakin tidak baik-baik saja. Apalagi belum lama ini, negara sedang dihadapkan dengan demo besar-besaran, yaitu adanya aksi tolak UU Omnibus Law Cipta Kerja. Ibaratnya, belum tuntas satu permasalahan besar dan dihadapkan dengan permasalahan baru. Akibat permasalahan wabah ini, pemerintah menerapkan berbagai kebijakan seperti PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), Social distancing , himbauan Work from home , ...

DAY 44

  Perlahan Menemukan Potret Bahagianya Satu per satu dari kita   mulai menemukan dengan siapa ia mengelabuhi dunia. Menemukan kawan untuk bercengkerama setiap hari, menemukan tempat terbaik untuk hati berpulang, menemukan pundak ternyaman untuk melampiaskan keluh kesah.Tentunya menemukan tempat menumbuh dan mengembangkan kebesaran cinta. Satu per satu dari kita sudah menemukan lensa untuk potret masa depannya. Dengan siapa ia menjatuhkan hati, menggandeng tangan, memeluk erat, hingga berjalan pada ranah yang sama. Tentunya pula, potret itu menggambarkan kebahagiaan pada keluarga yang selama ini diidam-idamkan. Kini, perlahan masing-masing dari kita memasuki potret itu. Lantas diri? Masih setia dengan tas gendongnya, seru temanku. Apalagi jika kupandangi foto-foto bersama kita dulu. Senyumnya memang masih merekah bahagia, seragamnya pun masih sama, dan masih pula memancarkan bahagia untuk menyambut masa depan. Dan kini, satu demi satu sudah menemukan gerbang menuju rumah ...

DAY 43

  Kembali Menemui Semangat Barangkali kita sempat lelah, perihal rutinitas yang hanya seperti itu-itu saja. Berkutik pada kebiasaan yang baginya belum ada perubahan. Berusaha menyelesaikan deretan tugas dengan melawan kemalasan. Berulang-ulang melihat waktu yang baginya tak pernah berjalan dan berpihak. Barangkali kita sempat mengeluh, perihal keadaan yang sampai sekarang belum menemui puncak terindahnya. Seakan-akan masih diambang duka dengan segudang kekhawatiran. Berjalan, tekad, dan sempat tertatih untuk sampai pada takaran manusia sempurna. Ternyata benar, hanya bumi yang mampu menampung keluh kesah manusia. Selebihnya, diri tak punya kuasa. Barangkali kita juga sempat terlena pada sajian masa yang satu detik pun tak kita gunakan untuk kebaikan. Memilih terdiam dan hanya memandangi ribuan potret manusia hebat. Lalu dengan mudahnya menyalahkan diri dan akhirnya mundur menjadi jalan peralihan. Bersemedi pada bait-bait puisi tentang gagal, sunyi, dan redupnya semangat. Be...

DAY 42

  Pintuku Terbuka Untukmu Setiap hari, pintu rumahku tak pernah tertutup. Aku akan selalu membukakan untukmu kapan saja kau mau. Sekalipun itu pada larutnya malam dengan derasnya hujan. Silakan untuk singgah, bermain, dan menepi rasa bersama. Akan kubuatkan kopi panas dengan perpaduan cokelat di dalamnya. Setiap pagi, aku akan menyapamu tanpa sungkan. Menyajikan cemilan istimewa buatmu, membukakan hati atas ceritamu. Kamu bebas bercerita tentang apa pun itu, hingga aku tenggelam bersama ribuan episode dari ceritamu. Tak hanya itu, silakan saja melempar tanya kepadaku. Jika kubisa, akan kuberikan jawaban terbaik untukmu. Setiap siang, aku akan melayanimu dengan bijak. Menyuguhkan pundak jika kau penat. Mengulurkan tangan jika kau lelah dan tak lupa rangkulan semangat. Aku tak bisa untuk melakukan lebih, hanya suguhan ini yang aku bisa lakukan untukmu. Tentunya, ini atas usahaku dan aku menyukainya. Bahkan sampai sore hingga malam, jika kau mau masih berkenan, rumahku akan se...

DAY 41

  Ada Juang di Setiap Lorong Pasar Sabtu kemaren, aku dengan semangatnya pergi ke kampus bersama teman-teman lainnya. Tiada yang berbeda dari sepanjang perjalanan, melainkan masih ramai dengan orang-orang bersileweran. Tiada lagi sapa yang terlontar dengan ramah, karena memang hanya bisa menerka bahagia di balik maskernya. Kami menggunakan grap mobil untuk berangkat. Lucunya, penumpang di depan yang merupakan Adik dari temanku terlihat bingung dan heran. Batinnya, kok ada pembatas plastik di antara dia dan supir. Ketika aku memberikan uangpun harus disilipkan di antara celak-celah plastik itu. Iya, semua demi keselamatan. Dan mancegah lebih baik dari pada mengobati. Kami   tiba di kampus dalam keadaan yang sepi. Kami pun bergegas melakukan apa yang kami tujukan. Bertemu dengan dosen, mengerjakan tugas di teras kelas seraya menggunakan wifi kampus, dan munuju ke perpustakaan. Sayang sekali, ternyata perpustakaan masih tutup dan akan dibuka jam 1 nanti. Kami tak mau menun...

DAY 40

  Istimewanya Jum’at Hujan sore lalu menyisakan dingin sampai kala pagi. Sapaan angin dengan dinginnya yang tak bisa ditepis dengan jari. Cukup jaket tebal yang melekat dengan balutan mukena untuk melindungi tubuh mungil ini. LangKahku tak terpapah, hanya saja ingin segera sampai masjid dan merapalkan pinta di Jum’at penuh istimewa. Ya, dari Jum’at sampai Jum’at lagi memang terasa cepat. Dan kau tau? Aku paling suka hari Jum’at. Jum’at adalah hari puncak untuk melangitkan segala harapan. Pada rapalan pinta yang dijamin mustajab, pada anjuran untuk memperbanyak shalawat, dan pada amalan-amalan lainnya. Walaupun aku juga sadar, semua hari adalah istimewa dan tak ada satu pun hari yang penuh dengan petaka. Hanya saja bagiku Jum’at adalah waktu untuk melambungkan cinta mendalam kepada-Nya. Dimulai dari pagi dengan penuh kesyukuran, menuju siang dengan tentEram, dan berjalan sore dengan rapalan pinta sebelum senja. Pernah dikatakan oleh orang bijak, bahwa hari Jum’at adalah hari...

ODOP CHALLENGE 6

Gambar
  Unsur Ektrinsik dan Intrinsik Dalam Cerpen “Malam Pengantin” Karya Lilis Fauz A.     Unsur Ekstrinsik 1.       Latar Belakang Masyarakat Pernikahan sederhana yang ada di suatu desa pada zaman penjajahan 2.       Latar Belakang Pengarang Pengarang dalam cerpen “Malam Pengantin” adalah alah satu anggoda dari komunitas ODOP. Di mana ia menitikberatkan pada kehidupan di masa lalu, yaitu budaya akan pernikahan sederhana yang bersamaan dengan peperangan. Ia menulis cerpen tersebut karena kondisi psokologisnya yang melekat dengan masa lalu. 3.       Nilai-nilai yang terkandung dalam cerpen a.        Nilai agama 1)       Mementingkan urusan golongan di atas urusan pribadi 2)       Adanya cinta yang terbina dalam pernikahan b.       Nilai sosial 1)     ...