DAY 41

 

Ada Juang di Setiap Lorong Pasar

Sabtu kemaren, aku dengan semangatnya pergi ke kampus bersama teman-teman lainnya. Tiada yang berbeda dari sepanjang perjalanan, melainkan masih ramai dengan orang-orang bersileweran. Tiada lagi sapa yang terlontar dengan ramah, karena memang hanya bisa menerka bahagia di balik maskernya.

Kami menggunakan grap mobil untuk berangkat. Lucunya, penumpang di depan yang merupakan Adik dari temanku terlihat bingung dan heran. Batinnya, kok ada pembatas plastik di antara dia dan supir. Ketika aku memberikan uangpun harus disilipkan di antara celak-celah plastik itu. Iya, semua demi keselamatan. Dan mancegah lebih baik dari pada mengobati.

Kami  tiba di kampus dalam keadaan yang sepi. Kami pun bergegas melakukan apa yang kami tujukan. Bertemu dengan dosen, mengerjakan tugas di teras kelas seraya menggunakan wifi kampus, dan munuju ke perpustakaan. Sayang sekali, ternyata perpustakaan masih tutup dan akan dibuka jam 1 nanti. Kami tak mau menunggu dan memutuskan untuk pulang saja.

Sebelum pulang, kami menyempatkan untuk mampir ke pasar kota. Bukan motor yang kami kendarai, melaikan angkot yang menjadi ciri khas kota ini. Tentu ongkosnya pun tidaklah mahal, lebih murah dengan jaminan identitas anak kampus. Kami saling bercakap di dalam angkot seraya melekatkan syukur dengan mendalam.

Tidak terasa, teriknya matahai menemani perjalanan menuju pasar. Kemudian kami berkeliling pasar tanpa sungkan. Kami bergegas untuk membeli apa yang kami butuhkan. Sering kali Ibu-ibu pasar menawarkan dagangannya tanpa malu kepada kami. Kami pun menolaknya dengan sopan.

Di mana pun, aku lebih suka berjalan di belakang. Mengamati sekitar dengan leluasa tanpa bisa diganggu oleh siapapun. Terlihat seorang kakek yang tertidur dalam keadaan duduk dengan kondisi dagangan kue di depannya. Keringatnya terlihat mengakir pelan, matanya sembab, sapu tangannya lusuh, namun masih ada pancaran tekad di baliknya. Sungguh, doaku tak terhenti ketika melihat si Kakek itu.

Kami berjalan menyelusuri lorong demi lorong pasar. Para penjual aneka barang berjejer dengan mengipas-ngipas badannya. Beberapa ada yang sedang menyantap pecel dengan lahap. Mengisi perut agar semangat tak redup. Mata mereka berbinar pada harapan sesuap nasi yang didapatkan untuk keluarganya. Berharap pula ada orang-orang baik untuk membeli dagangannya.

Terik matahari semakin menyengat dan membuat kita ingin segera kembali. Kami berjalan melewati banyak orang. Tak berani saling senggol atau mendahuluinya, hanya bisa berjalan pelan dan sabar. Angkot yang kami kendarai rupanya melewati tengah-tengah pasar. Aku duduk di bagian tengah menghadap pintu angkot yang terbuka lebar. Aku memandangi dengan seksama setiap objek yang ada.

Terlihat ada mata-mata yang redup dengan masker yang tak lagi terpakai dengan sempurna. Ada yang bersender di tiyang peneduh dagangannya. Ada yang duduk dan terdia, menatap lalu larlang orang berkeliaran tanpa ada satu pun yang mau menyentuh dagangannya. Para penjual itu bukan lagi Ibu-Ibu, melainkan para nenek yang berjalan pun sudah tak lagi tegak. Para kuli panggul yang entah pundaknya sekuat apa. Ah, para pejuang semuanya.

Mataku lebih tajam menatap gerobak bakso bertuliskan “Bayar seikhlasnya di hari Jum’at”. Hatiku kagum dan tersentak. Ia menebarkan pahala di samping ia berjualan. Memberikan kemudahan dan kebahagiaan bagi para pembeli. Tentu, ada iman di hatinya. Dan sungguh, aku malu dengan rezekiku yang masih terbuang sia-sia. Tanpa mau menyisihkannya untuk menghasilkan pahala.

Sederhana, namun hatiku tersentak melihat langsung apa yang terjadi di luar sana. Teringat sosok Ayah yang juga dalam posisi tersebut. Rela tak memiliki waktu luang hanya untuk kebahagiaan kelauarganya. Di balik ramainya pasar yang mungkin sebagian orang tak menyukainya, ada juang yang tak bisa dibandingkan dengan apa pun.

Cerita yang aku temui memang sederhana, tapi sungguh membuatku tersadar. Perihal juang yang belum seberapa, namun sudah merengek menyerah. Perihal semangat yang sering kali patah, namun inginnya sampai pada tujuan. Iya Aku. Banyak kisah yang dijadikan untuk berpedoman, guna agar kita senantiasa tak pupus harapan.

 

#Day41

#ODOP

#OneDayOnePost

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DAY 13

DAY 42