ODOP CHALLENGE 7

 Analisis Dampak Wabah Pada Masyarakat

Saat ini, Indonesia sedang dihantam duka yang tidak kunjung mereda. Indonesia berada dalam ambang bahaya untuk kemajuan negara. Bukan saat ini saja, melainkan sudah sejak Maret terhimpit realita. Tentu, hal ini dikarenakan adanya wabah yang sampai saat ini penularannya menjamah dengan mudah ke banyak daerah. Per tanggal 20 Oktober 2020, Indonesia sudah ada 369.000 jiwa yang positif, 294.000 dinyatakan sembuh, dan 12.374 dinyatakan meninggal dunia.

Jumlah itu bukanlah sedikit, melainkan termasuk besar dengan kondisi Indonesia yang semakin tidak baik-baik saja. Apalagi belum lama ini, negara sedang dihadapkan dengan demo besar-besaran, yaitu adanya aksi tolak UU Omnibus Law Cipta Kerja. Ibaratnya, belum tuntas satu permasalahan besar dan dihadapkan dengan permasalahan baru.

Akibat permasalahan wabah ini, pemerintah menerapkan berbagai kebijakan seperti PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), Social distancing, himbauan Work from home, bahkan sekolah dengan metode daring. Dengan adanya kebijakan tersebut, tentunya memberikan dampak bagi semua lapisan masyarakat, terutama dampak pada bidang ekonomi.

Manusia dihadapkan dengan kebutuhan sedangkan kondisi yang tidak memungkinkan untuk beraktivitas seperti sedia kala. Tentu, hanya berdiam diri tidak akan bisa memuaskan kemauan manusia. Manusia harus memutar otak untuk tetap bisa memenuhi kebutuhannya. Bahkan tidak jarang, ada yang berani menerjang keadaan hanya demi realisasi kebutuhan.

Seiring waktu berjalan, PSBB mulai dilonggarkan dan manusia sudah bisa beraktivitas ke luar rumah. Hanya saja dituntut untuk tetap mematuhi dan menjalankan protokol kesehatan. Seperti menghindari keramaian, jaga jarak, mencuci tangan setiap beberapa menit sekali, memakai masker, dan pola hidup sehat.

Kebijakan PSBB di kota-kota tertentu sudah diterapkan sejak beberapa bulan yang lalu. Masyarakat dengan sekilas sadar dan menaatinya. Namun tidak bertahan lama karena dianggap sudah cukup menurunkan angka korban. Ditambah lagi karena jika PSBB diperpanjang, ekonomi masyarakat akan semakin menurun.

Masyarakat susah mencari mata pencaharian akibat beberapa tempat usaha ditutup. Para penjual es cendol tidak lagi bisa mangkal akibat sekolah-sekolah dan taman-taman yang ditutup. Para emak bukan lagi sebatas sebagai pengurus rumah, melainkan juga sebagai pendidik akibat anak-anaknya belajar di rumah. Tentu, semua berjalan di luar kebiasaannya.

Bahkan bukan hanya berdampak pada bidang ekonomi saja, melainkan juga pada bidang sosial. Tidak ada sosialisasi masyarakat, keretakan rumah tangga, dan permasalahan lainnya yang muncul akibat dampak dari penurunan ekonomi. Bisa dilihat saja di layar media yang dilansir dari beberapa berita, selain angka pernikahan yang melesat tinggi, angka perceraian juga meningkat.

Dengan berbagai masalah ekonomi dan sosial tersebut, pemerintah Indonesia berupaya untuk memulihkan kondisi tersebut. Salah satunya dengan memberikan bantuan kepada masyarakat seperti pencairan program keluarga harapan, kredit usaha rakyat, kredit ultra mikro, kartu sembako, hingga program bantuan pangan non tunai (Tempo, 18 Maret 2020).

Namun tidak cukup hanya memberikan bantuan yang bersifat ekonomi saja, tetapi pemerintah juga harus memperhatikan kondisi sosial dan psikologis masyarakat. Hal itu dapat dilaksanakan dengan membentengi dan mengendalikan berita hoaks yang tersebar di semua lapisan masyarakat. Guna agar masyarakat tidak berada dalam ambang keresahan dan tetap memberikan energi positif serta keyakinan yang kuat untuk sama-sama mengatasi wabah ini.

 

#OdopChallenge7

#ODOP

#OneDayOnePost

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DAY 13

DAY 41

DAY 42