DAY 46
Merebahkan Lelah dan Menenangkan Kerumitan :)
Kabar, iya sebuah hal yang datang atas kehendak Tuhan. Entah
layaknya polisi tidur di jalanan yang barangkali sedikit mengganggu. Entah
seperti percikan api yang tiba-tiba menyengat dan pergi. Atau bahkan seperti
sorot cahaya bintang yang sempat kita nantikan. Dan sebab, sebuah kabar bisa
tiba-tiba hadir tanpa kita sangka sebelumnya.
Seperti malam lalu, kabar tentang guyuran air mata yang tak reda sampai
kala pagi. Bukan bermaksud sandiwara, hanya saja jika siap bermain dengan hati,
maka harus siap pula menerima konsekuensi. Walaupun paham betul, hati adalah
kejujuran paling madalam. Tanpa bisa dibantah atau pun disalahnya. Hanya
tinggal dengan siapa hati berinteraksi. Dengan orang yang mampu memahamikah?
Atau sebaliknya?
Bukan hanya itu kawan, saat siang menjelang, aku kembali dihadapkan
dengan kabar yang sebelumnya aku tak menyangka. Budeku dipanggil oleh Allah dan
selisih 40 hari dengan kematian Ibunya. Meninggalkan dua anak perempuan yang sedang
menikmati masa mudanya. Tidak ada yang bisa menebak atau pun mengelak, semua
desain kematian sudah ada di skenario Allah.
Tanpa sadar, hatiku menangis tanpa tersisa. Kelopak matamu membesar
dengan iar mata yang perlahan kering. Kemudian sendu, banjir, dan kering lagi. Bahkan
menjadikankan mata sembabku kembali muncul tanpa ada jeda sedikitpun. Belum
lagi kabar tentang tugas-tugas dan amanah lainnya. Ya, masih tergeletak di atas
ranjang penundaan. Entah apa yang mau kuperbuat, merebah dan pasrah yang aku
bisa.
Tapi nyatanya aku tetap tak mau hanya bersemedi menikmati kesedihan
dan terlarut dalam urusan hati yang tiada habisnya. Aku kembali membuka layar
laptop dan mengetikkan kata demi kata. Lega, ini sudah lebih dari cukup yang
aku bisa. Ruang tanpa ganguan dan pembatasan dan aku bisa menumpahkan segalanya.
Mengistirahatkan hati dari penatnya kesedihan menjadi hal yang
ditunggu. Bukan hanya hati saja, raga dan jiwa juga ingin merebah pada alas
kenyamanan. Tapi nyatanya tidak, kabar untuk terus bergerak masih saja menjadi
kawan. Disibukkan dengan tuntutan, amanah, tanggung jawab, dan anggapan hati
yang sering kali menjatuhkan.
Aku kuat, aku tidak boleh terlarut dalam duka dan aku akan tetap
baik-baik saja. Dengan cara memaafkan diri sendiri dan orang lain. Tidak
mengungkit-ngungkit kabar yang dianggap duka dan berdamai dengan nyaman. Sekali
lagi, mari rebahkan lelah, tenangkan segala kerumitan, dan jika esok masih
menyapa, mari berjuang lebih baik lagi. Jangan lupa juga untuk jaga kesehatan. Kudoakan
untuk kebaikanmu kawan.
#Day46
#ODOP
#OneDayOnePost
Komentar
Posting Komentar