DAY 57
Takdir yang Bekerja
Apa Kabar? Seruku lirih pada setiap waktu. Satu pertanyaan penuh
rahasia akan jawaban. Tanyaku senyap, sunyi, dan tak ada yang tau. Satu-satunya
yang paling tau adalah takdir. Karena atas takdir itu, ia menempatkanku pada
keyakinan walau jarak terbentang. Karena takdir itu pula, sejauh mata memandang
akan tetap dalam keterpihakan.
Aku terus belajar untuk berjalan tanpamu. Pada setiap kilometer
yang kujamah dengan mudah, pada setiap rintangan yang kulalui dengan ringan,
dan pada setiap sisi jalan yang kutepis akan hambatan. Tak sekedar itu, aku
juga masih leluasa untuk menyapu dedaunan. Memetik bunga pada ujung pangkal
yang rendah dan menggugurkannya seraya senyum yang mendalam.
Aku tak pernah melemah, mengeluh pun jarang, aku hanya penasaran
perihal bagaimana takdir bekerja. Atas hujan yang datang, segala harapanku pun
bekerja dengan spontan. Bukankah hujan adalah waktu terbaik untuk merapalkam
pinta? Ya, selain pada sunyinya malam. Untuk itu, atas hujan yang turun, aku
tak pernah meminta untuk reda. Membiarkan ia turun, mengalir, memberikan
kesejukkan untuk bumi, lalu ada pelangi pada purnanya.
Sepenuhnya aku memang belum menemukanmu, tapi kuyakin, takdir akan
tetap bekerja tanpa mau berhenti. Bahkan walau kita terpisah dengan jarak dan waktu
yang teramat jauh, tapi takdir akan mematahkan segalanya. Bukan berarti hanya
diam, melainkan tetap bergerak. Mengalir, menyingkir jika bertabrakan,
menghindari celah kejerumusan, hingga berhasil sampai pada muara terindahnya.
Titik termanis dalam kehidupan.
Walaupun aku juga tau, membicarakanmu tak pernah ada habisnya.
Bahkan pada setiap lembaran selalu saja tersemat tentangmu. Tak lain, topik
yang kurangkai hanya berputar pada anggapan perihal takdir secara sempurna akan
bekerja. Tanpa kumau membelokkan langkah dan berpindah pada narasi yang
berbeda.
Baiknya memang kutak terlalu mempercayai akan pertemuan denganmu. Toh,
kau juga belum tentu menanyai kabarku. Aku disibukkan dengan anggapan
keterpihakan takdir, sedangkan kau pun tak memperdulikanku sama sekali. Memang,
sesekali takdir bekerja secara kaku. Tapi hasil akhir tak pernah berakhir semu.
Lebih baiknya lagi, aku tetap mempercayai takdir dengan landasan
ketaatan kepada Tuhan. Bahasannya bukan pasrah, tetapi diimbangi dengan usaha
untuk menjemput setiap takdir yang menyapa. Dipersiapkan dengan usaha dan
langitan doa. Mari menjemput takdir terbaik kita.
#Day57
#ODOP
#OneDayOnePost
Mari kita jemput takdir yang terbaik bagi kita ... kata2 manis sekali ... keren kak lanjut ...
BalasHapusbener kak. Mari kita berusaha maksimal, dan berdoa maksimal.
BalasHapusEh, ini termasuk apa? Curhatan? Bagus bagus, suka diksinys
BalasHapus