ODOP CHALLENGE 9

 Ada Hikmah Dibalik Wabah

Sudah berbulan-bulan lamanya kita dikurung oleh keadaan. Bahkan tahun 2020 ini akan menjadi narasi penuh duka yang tidak pernah disangka sebelumnya. Wabah yang semakin menjalar dengan mudah, kesadaran masyarakat yang kurang, hingga berdampak pada semua aspek kehidupan, terutama dalam bidang perekonomian.

Manusia dihadapkan dengan kebutuhan sedangkan kondisi yang tidak memungkinkan untuk beraktivitas seperti sedia kala. Tentu, hanya berdiam diri tidak akan bisa memuaskan kemauan manusia. Manusia harus memutar otak untuk tetap bisa memenuhi kebutuhannya. Bahkan tidak jarang, ada yang berani menerjang keadaan hanya demi realisasi kebutuhan.

Seiring waktu berjalan, PSBB mulai dilonggarkan dan manusia sudah bisa beraktivitas ke luar rumah. Hanya saja dituntut untuk tetap mematuhi dan menjalankan protokol kesehatan. Seperti menghindari keramaian, jaga jarak, mencuci tangan setiap beberapa menit sekali, memakai masker, dan pola hidup sehat.

Kebijakan PSBB di kota-kota tertentu sudah diterapkan sejak beberapa bulan yang lalu. Masyarakat dengan sekilas sadar dan menaatinya. Namun tidak bertahan lama karena dianggap sudah cukup menurunkan angka korban. Ditambah lagi karena jika PSBB diperpanjang, ekonomi masyarakat akan semakin menurun.

Bahkan bukan hanya berdampak pada bidang ekonomi saja, melainkan juga pada bidang sosial. Tidak ada sosialisasi masyarakat, keretakan rumah tangga, dan permasalahan lainnya yang muncul akibat dampak adanya wabah ini. Bisa dilihat saja di layar media yang dilansir dari beberapa berita, selain angka pernikahan yang melesat tinggi, angka perceraian juga meningkat.

Dengan berbagai masalah ekonomi dan sosial tersebut, pemerintah Indonesia berupaya untuk memulihkan kondisi tersebut. Salah satunya dengan memberikan bantuan kepada masyarakat seperti pencairan program keluarga harapan, kredit usaha rakyat, kredit ultra mikro, kartu sembako, hingga program bantuan pangan non tunai (Tempo, 18 Maret 2020).

Namun tidak cukup hanya memberikan bantuan yang bersifat ekonomi saja, tetapi pemerintah juga harus memperhatikan kondisi sosial dan psikologis masyarakat. Hal itu dapat dilaksanakan dengan membentengi dan mengendalikan berita hoaks yang tersebar di semua lapisan masyarakat. Guna agar masyarakat tidak berada dalam ambang keresahan dan tetap memberikan energi positif serta keyakinan yang kuat untuk sama-sama mengatasi wabah ini.

Sebagai mahasiwa, tentu kita akan dikagetkan dengan aktivitas mencari ilmu yang tidak seperti biasanya. Ibaratnya yang seharusnya kita menerima satu piring nasi, kita hanya menerima satu suap saja. Hal itu menjadikan kita tidak boleh hanya mengandalkan dosen, tetapi juga aktif untuk mencari sumber ilmu dari berbagai cara. Pandai memanfaatkan waktu, menambah jam terbang untuk membuka buku, dan senantiasa menyadari akan pentingnya ilmu.

Sebagai Ibu rumah tangga, tentunya tidak bisa jika harus melayani anak untuk bersekolah dari rumah. Orang tua terpaksa harus menjadi guru pengganti saat anak-anaknya bersekolah dari rumah. Ditambah lagi jika orang tua tersebut tidak bisa mengusai penuh dan kurang paham tentang teknologi. Tentu, sangatlah rumit untuk melakukan ini.

Sebagai pekerja kantor, sangatlah tidak biasa jika bekerja dari rumah. Mungkin juga kebanyakan orang akan merasa lebih enak jika mengerjakan tugas di kantor. Karena jika dikerjakan di rumah akan terbentur dengan aktivitas rumah dan dikhawatirkan tidak akan selesai dengan maksimal. Tetapi, mau tidak mau memang harus seperti itu. Menggunakan waktu di rumah untuk menyelesaikan tugas kantor.

Sebagai seorang pekerja atau buruh, banyak di antaranya yang terpaksa harus kehilangan pekerjaan. Pabrik ditutup, kota-kota dilockdown, hingga terjadi pengangguran. Mata pencaharian pun susah didapatkan hingga harus memutar otaknya untuk tetap menghasilkan rupiah hanya dari rumah saja.

Lain halnya dengan peserta ODOP Batch 8, di mana akan mempunyai banyak waktu di rumah, sehingga kegiatan tulis menulis akan lebih maksimal. Menariknya lagi peserta ODOP Batch 8 ini berasal dari semua kalangan. Mulai dari mahasiswa, Ibu rumah tangga, pekerja, hingga pengusaha. Tentu untuk menyingkronkan waktu menulis antar mereka juga sangatlah susah. Tetapi tetap bagaimana caranya agar mereka menyetorkan tulisan setiap hari dengan sama-sama berlatarkan wabah.

Tulisan masing-masing peserta pun beragam macamnya. Namun memungkinkan adanya muncul tema baru sebab kedaaan wabah ini. Karena ada kalanya tulisan bisa tercipta karena adanya rasa dan penyadaran akibat keadaan yang sedang dialaminya. Seperti halnya dalam penulisan opini ini yang didasarkan pada keadaan penulis atau lingkungan sekitar penulis.

Bukan tanpa maksud Allah menghadirkan wabah ini. Karena barangkali ini sebagai ujian dan peringatan kepada manusia. Bukan sia-sia juga Allah menghebatkan wabah ini tanpa ada hikmah setelahnya. Akan ada banyak hikmah dan kebaikan di baliknya jika kita mampu membuka mata dan telinga dengan kesadaran.

Atas mulut kita yang senantiasa memakai masker, barangkali ada dusta yang harus kita tutupi dan tak perlu kita ucapkan. Atas upaya mencuci tangan setiap saat, barangkali akan membersihkan dosa-dosa tangan kita dan tak perlu mengulangi untuk kita perbuat lagi. Atas jarak yang membuat kita terpisah, barangkali kita akan lebih menjaga dalam berinteraksi. Menghindari perdebatan dan permusuhan, serta menyiapkan diri untuk menjadi lebih baik lagi.

 

#ODOPCHALLENGE9

#ODOP

#OneDayOnePost

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DAY 13

DAY 41

DAY 42