DAY 63

 Duka Setiap Orang Berbeda

Setiap hari kutak bosan mengamati teman-teman. Dari cara ia berjalan, berpakaian, berbicara, sampai pada hal yang membuat ia bahagia atau pun sedih. Jelas bahwa tak semua harus pandai-pandai menutup mata, fokus kepada diri sendiri, dan tak menghiraukan orang lain. Namun, pengamatanku ini bukan untuk hal membanding-bandingkan. Melainkan untuk penyadaran kepada diri sendiri. Dengan harapan pula aku bisa mengambil pelajaran dan melangitkan kesyukuran yang lebih.

Seperti biasa, aku selalu turun dari masjid setalah melaksanakan agenda pesantren dengan barisan paling belakang. Memilih berdiam dulu di masjid, berinteraksi dengan Al-Qur’an, atau bahkan hanya sekadar mencari ketenangan. Aku juga tak pernah sendiri, selalu ada temanku yang juga setia berlama-lama di masjid. Aku melihat temanku itu termenung di pojok masjid. Kepalanya menunduk, mukanya haru, dengan Al-Qur’an di pangkungannya.

Aku mencoba mendekatinya. Benar, ia sedang berusaha mengulang hafalan Al-Qur’annya. Bahkan sesekali ia sampai merengek kesal ketika apa yang ia ucapkan tak sesuai dengan teks Al-Qur’an. Bukan masalah, karena di situlah ia sedang membuktikkan juangnya.

Aku mencoba meraup pundaknya dan membuat ia menjadi lebih bahagia. Tapi usahaku gagal, ia malah melampiaskan tangisnya kepadaku. Aku tak menghentikannya, membiarkan ia seperti itu hingga sampai ia mau bercerita kepadaku. Mukanya semakin memerah dengan deraian air mata. Al-Qur’annya menjadi sedikit lusuh akibat terkena tetesan air matanya.

Setelah kuberusaha menenangkan, ia memulai bercerita dengan panjang lebar. Tanpa sadar, air mataku tak bisa terbendung. Aku terjebak dalam rangkulan haru di lingkaran tangis kita berdua. Tanganku juga tak lepas dari pundaknya. Aku merasakan ada tamparan hati yang begitu keras. Kesadaran pun sontak kudapatkan.

Ia bercerita tentang kondisi hatinya, dirinya, dan keluarganya. Ceritanya bukan lagi cerita yang membuat tertawa, melainkan cerita haru yang aku pun tak sanggup mendengarkannya. Ia terjebak dalam narasi yang sulit dimengerti. Derita yang ia dapatkan bertubi-tubi dengan kondisi hatinya yang semakin rumit. Selama ini kukira dia pendiam dan baik-baik saja. Tapi nyatanya, hatinya selalu ada perang yang tak terkendalikan. Riuh akan derita.

Benar memang, Allah memberikan hiasan narasi hamba-Nya itu dengan banyak cara dan tak semua orang mendapatkan cara yang sama. Mungkin satu orang terlihat bahagia, tapi di balik itu ia diuji dengan duka yang orang tak merasakannya. Aku sedih sebab ujian yang kuterima, kamu pun demikian. Sedih dengan ujian yang kamu terima. Setiap orang diuji dengan cobaan yang berbeda.

Barangkali selama ini aku hanya terfokus pada penderianku saja dan enggan untuk menyuguhkan pundak untuk orang lain. Hingga akhirnya mata dan hati tertutup akan kepedulian. Sudah, tak seharusnya aku begitu bukan? Atas kebiasaanmu mengamati sekitar, mari lebih sadar terhadap sekitar. Berusaha peka pada keadaaan dan tak enggan mendekat serta memberikan uluran semangat untuk cerita orang lain.

Tak muluk-muluk harus memberikan solusi dengan kata-kata bijak, cukup hadirkan luasnya hati, uluran tangan, dan kuatnya pundak untuk orang lain. Karena ada kalanya kelegaaan itu hadir ketika segala cerita telah tertumpahkan kepada orang lain, tanpa meminta nasihat atau pun penguatan.

 

#Day63

#ODOJ

#OneDayOnePost

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DAY 13

DAY 41

DAY 42