DAY 64
Disatukan Oleh Hati yang Bercahaya
Bukankah hati diciptakan sepaket dengan rasa-rasa yang ada di
dalamnya? Semakin kita berinteraksi dengan hati, semakian banyak pula rasa yang
akan kita terima. Sepertinya juga peran hati memang tak bisa terpisahkan dari
setiap laku kita. hingga akhirnya timbul bahagia, haru, tangis, kecewa, takut,
khawatir, dan lain macamnya.
Bukankah hati yang selalu mengingat Allah adalah hati yang bercahaya?
Semakin lama dan semakin banyak ia berinteraksi dengan Allah, semakin terang
pula hatinya. Tak pernah padam dimakan usia atau berubah menjadi suram dan tertutup.
Tak akan pernah.
Maka bayangkan jika dua hati disatukan dengan bekal cahaya yang
dimilikinya, semakin terang bukan? Tak hanya itu, dua hati itu memutuskan untuk
menetap di rumah yang sama. Membumikan cinta dan kasing sayang. Sungguh betapa
terang rumah itu.
Bukankah hati yang selalu diliputi dzikir juga akan memancarkan
cahaya? Dari lisannya pula yang ia gunakan untuk melantunkan kalam-Nya, sungguh
hatinya sangatlah terang. Tak bisa juga terbantahkan, hatinya akan tenang dan
tenteram berada di bawah atap pelukan Sang Tuhan. Karena bagi orang yang selalu
mengingat Allah di mana pun dan kapan pun, maka Allah pun akan selalu mengingat
hamba itu. Tanpa menyisihkannya bahkan akan selalu dalam dekapan pelukannya.
Namun, bagaimana dengan hati yang tidak terurus dan lalai dengan
Allah? Bukankah kegelapan yang akan mereka dapatkan? Bahkan jika terus-terusan,
matinya hati yang menjadi imbasnya. Sungguh, hati tak bisa dipermainkan. Ia harus
disirami dengan ketaatan, kesyukuran, juga keteguhan.
Semoga kita senantiasa disatukan oleh hati, lisan, dan pribadi yang
bercahaya. Bercahaya karena interaksinya dengan Allah, dengan ilmu yang berkah,
dan dengan amal yang saleh. Semoga pula kita tak pernah enggan untuk
mempertahankan cahaya kita, berusaha menepis redup, dan enggan untuk padam. Semoga.
#Day64
#ODOP
#OneDayOnePost
Komentar
Posting Komentar