ODOP CHALLENGE 3

 Aku Telah Menemukan Duniaku

Pada tengah-tengah keramaian dunia dengan berjuta orang, hiduplah seorang perempuan dengan segudang mimpinya. Ia terlahir pada deretan cerita sederhana namun penuh makna. Kota kecil di Jawa Tengah menjadi tanah pijakan pertamanya, Batang. Dalam naungan cinta dan dekapan kasih dari keluarga biasa.

Ya, Namaku Trimo Wati. Panggil saja dengan sebutan “Imo”. Namamu sangatlah biasa dan bahkan dipandang sebagai nama kuno di desa-desa. Aku sempat mengelak dan protes perihal nama yang diberikan kepadaku. Pernah juga menjadi beban akibat menjadi tak percaya diri. Namun kusadar, hal itu justru akan membunuhku dan membutku patah semangat.

Tentu, pemberian nama ini bukan tanpa maksud dan bukan tanpa arti.  Ada arti mendalam atas namaku yang kuno ini. Kata “Trimo” yang berarti orang yang menerima atau qana’ah. Sedangkan “Wati” berarti perempuan. Berharap atas namaku ini ada doa yang senantiasa dipanjatkan. Yaitu perempuan dengan sikap mudah menerima. Kini aku sudah dewasa dan sudah berdamai ria dengan namaku.

Bapakku seorang penjual bakso keliling di lintas kabupaten. Setiap harinya ia tak pernah patah dalam mendorong gerobak seraya memanjatkan doa agar dagangannya habis terjual. Tak bisa membayangkan betapa gigihnya ia. Dengan keringat yang aku tak tau sudah berapa kali ia mengusapnya. Semoga ada keberkahan pada setiap langkah yang kau tempuh wahai Bapak.

Ibuku hanya Ibu rumah tangga biasa. Kesehariannya hanya mengurusi rumah ditemani kakek yang sudah tua dan adik terkecilku. Terkadang juga beraktivitas di sawah seraya mengisi kekosongan. Bagi Ibu, tiada waktu kecuali untuk rumah dan keluarga. Bahkan sering kali pula, ia melupakan waktu untuk dirinya sendiri karena ia terlalu mementingkan rumah. Ah, malaikat itu memang nyata adanya. Seperti Ibu.

Aku mempunyai dua saudara kecil. Pertama berumur 18 tahun yang sedang memulai untuk berpijak di dunia perkuliahan. Ia perempuan yang sangat pintar, bahkan lebih pintar dariku. Ia pandai dalam hitung-hitungan dan jualan. Tipe orangnya pun tak mau diam. Selalu ada kesibukkan yang membuat ia terkesan senantiasa bahagia. Dunianya sangatlah berbeda denganku yang hanya berkutik dengan kepenulisan dan organisasi.

Sedangkan adikku yang terkecil adalah si singa. Laki-laki, gendut, cerewet, nakal, dan super ngeselin. Jika aku di rumah, tiada hari tanpa berkelahi dengannya. Sampai berulang kali Ibuku mengelus dada akibat ramainya rumah. Namun dibalik adikku yang nakal, ia juga pintar. Karena memang Ibuku selalu menekankan untuk belajar dan ia menjadi terbiasa.

Di balik keanekaragaman keluargku, aku tetaplah aku. Dengan sikap ambisius dan perasa yang menjadi watak khas dariku. Termasuk dengan sikapku yang suka termenung dan menyendiri. Perlahan, aku mulai memanfaatn kesendirianku itu dengan melakukan sesuatu yang bermanfaat. Ya, menulis. Aku mulai suka menulis sejak SMA. Namun tulisan-tulisanku hanya kukomsumsi sendiri.

Memasuki dunia perkuliahan, aku mulai terjun ke wadah kepenulisan. Tentu dengan harapan aku bisa lebih percaya diri dengan tulisanku sendiri. Aku aktif dalam Tim Jurnalis Muda Fuadah. Di mana menjadi reporter Fakultas di kampusku. Selain itu, aku juga tergabung dalam organisasi pers tingkat institut.

Rupanya tak berhenti di situ, aku masih bersemangat untuk mengepakkan sayap. Aku juga termasuk pengurus di salah satu organisasi ekstra kampus dan menjadi pengurus di pondok yang kutempati sekarang. Bagiku sekarang, tiada waktu kecuali untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat, menulis salah satunya.

Sekarang, aku sudah dewasa dan semakin tumbuh dewasa. Aku sudah menemukan ruang untuk kumenemukan dunia. Aku sudah menemukan ruang untuk kebahagiaan yang sebenarnya. Yaitu menulis, menuangkan jutaan ide pada lembaran dan pena. Berharap atas apa yang kutulis membuahkan kebermanfaatn untuk diri sendiri dan orang lain.

 

#Autobiografi

#Fiksi

#OneDayOnePost

#ODOP

#ODOPChallenge3

 

 

 

Komentar