DAY 27
Tak pernah terlewatkan dari pagi menjelang sampai larutnya malam.
Iya, tentang cerita pertemanan yang suatu saat akan terkenang.
Pertama kali kumembuka mata, yang dipertama kulihat adalah kau. Kau
terlihat nyaman dengan balutan selimut tebal. Kau juga terlihat terlelap dalam
kelamnya malam. Ah!, Nyatanya matamu masih memancarkan cerita di hari
kemaren. Berharap saat fajar tiba, matamu berbinar menyambut indahnya pagi.
Iya, dan itu kenyataan.
Setiap hari, tak pernah terlewatakan untuk mengisi hari bersamamu.
Kau yang tanpa bosan menyuguhkan cerita yang membuatku terkesan. Aku pun
membalasnya dengan menyuguhkan cerita kembali tentangku. Akhirnya, kita
memadukannya jadi satu.
Tak berhenti di situ, kita saling bercakap sampai tak menghiraukan
waktu. Sering terbawa perasaan akibat topik yang kita bicarakan. Bahkan
sesekali air mata kita menetes tanpa disengaja. Tepukkan pundak dan rangkulan
tangan selalu menjadi kehangatan usai itu.
Nyatanya pertemanan tak sesederhana itu. Hanya bersama, saling
bercanda, dan bermain bersama, tidak. Pertemanan layaknya wadah untuk
menentukan kita sebenarnya. Bukankah seperti yang dikatakan bahwa jika kau
ingin melihatku maka lihatlah teman disekelilingku terlebih dahulu? Iya benar.
Aku ada juga karena kamu teman. Bayangkan saja dari bangun tidur
sampai mau tidur lagi hanya berkutik bersamamu, jelas itu menjadi kebiasaan.
Jika satu hari saja ku tak menemuimu, jelas juga rasa tak terbiasa akan hadir.
Bahkan sepanjang cerita tentangku, mayoritas adalah tentang pertemanan. Entah
pertemanan saat kecil, sekolah, kuliah, pesantren, maupun pertemanan cinta
kelak bersamanya.
Tetaplah menjadi uluran semangat di kala aku lelah. Tetaplah
menjadi pundak terkuat untuk aku melampiaskan segala resah. Tetaplah menjadi
matahari di kala hariku suram. Dan tetaplah menjadi segalanya untukku.
Merangkai cerita sampai tua yang tak berkesudahan. Hingga kita kembali di
pertemukan dalam hangatnya kursi melingkar di surganya kelak.
Komentar
Posting Komentar